Cerita silat original Deni Kurniawan*
BARA api unggun masih menyala tenang di bawah langit malam yang menaungi kawasan Palagan Lawu Wilis. Namun, gelak tawa yang semula menghangatkan suasana mulai meredup. Sorot mata para petinggi daerah Ponorogo kini mengarah pada Agni Dahana. Sang pesilat api yang justru tenggelam dalam lamunan cerita silat serta nuansa hatinya kepada Anila Nurani itu.
“Agni,” ujar salah satu petinggi berkumis tebal sambil mendekat dan menepuk lutut Agni pelan.
“Ada apa sebenarnya? Sejak sore kau seperti bukan Agni yang kami kenal,'' lanjutnya
Agni hanya tersenyum tipis. “Tak apa, aku hanya sedang menjaga tenaga untuk pertarungan utama,'' jawab Agni.
Seorang petinggi yang juga penasihat utama rombongan Ponorogo itu tidak percaya begitu saja.
Dia memperhatikan gelagat Agni sejak kembali dari arena.
Murung. Tak bersemangat. Bahkan tidak menanggapi gurauan seperti biasanya.
Si petinggi itu lantas mendekati pengawal terdekat.
“Aku curiga pesilat kita kena jampi-jampi perempuan itu. Sesuai cerita silat yang beredar, Anila Nurani juga punya ilmu seperti itu,” ungkapnya.
“Dia itu bukan perempuan biasa. Pandangannya tenang, tapi bisa menusuk ke dalam batin. Ilmu angin dari lereng Lawu,” lanjutnya.
Tanpa membuang waktu, petinggi itu berdiri dan memberi isyarat kepada dua orang kepercayaannya.
“Segera siap-siap! Temani aku mencari air dari tujuh mata air,'' kata si petinggi kepada sejumlah pengawal.
“Menurut cerita kuno, air dari tujuh sumur itu bisa mematahkan segala jampi dan pengaruh kebatinan,'' lanjutnya.
Malam itu juga, tiga orang berangkat menembus kabut dan hutan.
Menyusuri jalur-jalur rimba menuju tujuh titik mata air.
Mereka percaya, sebelum mentari naik dan palagan dibuka, Agni harus disucikan. Bebas dari pengaruh perempuan lawan.
Sementara itu, di dekat api unggun yang hampir padam, Agni masih duduk sendiri. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan