Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“MAAFKAN kelancangan hamba, Pukulun,” ucap Batari Durga dengan penuh hormat. “Namun, hamba hanya seorang ibu yang tak sanggup menahan tangis anaknya. Hamba memberanikan diri menghadap untuk memohon keadilan.”
Durga mengadu pada Batara Guru, sang ayah dari Dewa Srani, yang selama ini dianggap tak pernah peduli atau menunjukkan kasih sayang pada anaknya.
“Dewa Srani ingin apa darimu, Durga?” tanya Hyang Guru dengan nada datar.
Baca Juga: Diramalkan Jadi Raja Besar Astina, Tokoh Wayang Ini Dibawa Batari Ganggawati ke Kahyangan
“Duh Pukulun, paduka adalah ayahnya, tempat berlindung dan harapan seorang anak. Kini, ia hanya meminta agar wahyu Tohjali itu diberikan padanya. Betapa bahagianya seorang anak yang selama hidupnya tak pernah dipedulikan, kini diberi hadiah dari ayahnya sendiri.”
Batara Guru mulai merasakan perasaan bersalah.
Ia menyadari bahwa sejak kecil hingga dewasa, Dewa Srani memang tak pernah menerima kasih sayang seorang ayah.
Baca Juga: Lakon Wayang Sinta Tundung Bagian 1, Jeritan Seorang Istri di Tengah Sidang
“Durga, memang benar aku menerima wahyu Tohjali hari ini,” jawab Hyang Guru akhirnya. “Namun, wahyu ini diperuntukkan bagi seorang kesatria yang berjasa besar dan tekun bertapa.”
“Berarti wahyu itu bukan untuk anak paduka?” ucap Durga lirih, menyindir.
“Duh, anakku Dewa Srani... sungguh malang nasibmu. Sekali saja kau meminta pada ayahmu, tak dikabulkan juga. Kau tetap anak yang tak diinginkan, tak pernah diperhatikan.”
(*/naz)
Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani