Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
BATARA Narada hanya bisa menggelengkan kepala. Dewa Srani dan ibunya pun turun ke bumi dengan bangga.
Tak lama kemudian, Hyang Ismaya datang menemui Batara Guru.
“Kakang Ismaya, apa maksud kedatanganmu?” tanya Hyang Guru dengan lembut.
“Aku mendengar bahwa hari ini adalah hari penurunan Wahyu Tohjali. Pada siapa kau berikan wahyu itu, adikku?”
Baca Juga: Lakon Wayang Sinta Tundung Bagian 1, Jeritan Seorang Istri di Tengah Sidang
“Wahyu itu berada dalam kekuasaanku, Kakang. Kau tak berhak tahu,” jawab Batara Guru dingin.
Para dewa mulai resah, menyaksikan sang penguasa Kahyangan bersikap seperti itu.
“Aku tidak mencampuri urusanmu,” ujar Ismaya tenang. “Tugasku adalah mengingatkanmu bila kau keliru, membenarkan keputusan yang menyimpang.”
“Aku yakin keputusanku benar,” bantah Batara Guru. “Seorang pemimpin tak pernah salah. Hanya orang lain yang tak sejalan dengannya.”
Ismaya mulai curiga. “Kalau aku boleh menebak, wahyu itu kau berikan pada anakmu, Dewa Srani, bukan?”
“Benar. Karena sebagai orang tua, aku percaya padanya.”
“Lalu bagaimana dengan tanggung jawabmu sebagai penguasa Kahyangan? Apa keputusan itu bijak? Kau terlalu mementingkan keluargamu hingga mengorbankan orang lain. Pemimpin seharusnya adil, bukan serakah seperti raksasa.”
(*/naz)
Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani