Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“BENAR katamu, Durga,” jawab Batara Guru. “Keputusan pemimpin memang tak seharusnya ditarik. Tapi seorang pemimpin akan tampak seperti pecundang jika tak mampu memperbaiki keputusan demi kebaikan yang lebih besar. Aku rela meletakkan kekuasaan dan jabatanku demi umat yang ada di bawah.”
“Dasar lelaki tak bertanggung jawab! Kau lebih memihak orang lain daripada anakmu sendiri. Bagaimana mungkin kau mencintai rakyatmu jika keluargamu sendiri tak kau sayangi?” tuduh Durga tajam.
Batara Guru murka mendengar kata-kata itu. Matanya memerah, tanda kemarahan yang besar.
“Jika kau tak setuju dengan keputusanku, aku akan mengurungmu! Aku adalah dewa, dan aku harus adil, tidak memihak siapa pun, termasuk keluargaku sendiri!”
Melihat murka Batara Guru, Durga dan Dewa Srani pergi meninggalkan Manikmaya dengan hati penuh kepiluan.
Tak lama, Hyang Ismaya datang kembali.
Baca Juga: Lakon Wayang Sinta Tundung Bagian 1, Jeritan Seorang Istri di Tengah Sidang
“Adikku, kau telah menunjukkan jati dirimu sebagai dewa sejati. Kini berikanlah wahyu itu pada Arjuna, sebagaimana telah disepakati para dewa.”
Batara Guru pun turun menemui Arjuna yang masih bertapa.
“Arjuna, bangkitlah dari tapamu. Engkau adalah orang yang terpilih. Terimalah wahyu Tohjali ini sebagai tanda kebesaranmu. Gunakanlah wahyu ini untuk menebar kebaikan, menolong sesama, dan mengingat selalu pada Tuhan. Engkau akan menjadi leluhur para raja besar di tanah Jawa.”
(*/naz)
Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani