Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
DI sebuah telaga bernama Karangkencana, Kyai Semar tengah bertapa. Tapi tapa Semar berbeda dengan para brahmana atau kesatria.
Ia tidak menyedekapkan tangan, melainkan memegang kuncungnya sambil terus menyebut asma Tuhan.
Dari tubuhnya, keluar cahaya yang lalu menjelma menjadi sosok tampan luar biasa—sukma sejati bernama Batara Ismaya.
Baca Juga: Ikuti Dewa-Dewa ke Suralaya, Tokoh Wayang dari Desa Ini Sanggup Kalahkan Para Raksasa
“Pukulun,” ucap Semar lirih, “aku memanggilmu bukan karena mengeluh, tapi karena ada yang ingin kutanyakan. Setelah kau menghadap Hyang Wenang, apa pesan yang kau terima?”
Ismaya mengangkat alis. “Kau bertanya seolah menyimpan kekecewaan padaku. Apa benar begitu?”
“Maafkan aku, Pukulun. Aku merasa kehilangan arah tanpa kehadiranmu. Aku hanya ingin tahu, apa sebenarnya tugas sukma sejati?”
Ismaya berusaha menjawab dengan tenang.
“Sukma sejati adalah perantara Tuhan yang dititipkan ke dalam raga manusia untuk menjalani takdirnya. Lalu, tahukah kau apa kewajiban makhluk hidup, hai Semar?”
“Manusia adalah wadah tempat sukma sejati menjalankan perintah Tuhan. Namun, seringkali ada yang menghalangi raga dalam mengikuti kehendak sukma sejati.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani