Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“APA yang menghalangi raga menjalankan kehendak sukma sejati, Pukulun?” tanya Semar penuh rasa ingin tahu.
Ismaya mengangguk. “Yang menjadi penghalang adalah nafsu. Nafsu adalah dinding antara kesucian sukma dan kelemahan manusia. Nafsu membuat manusia lalai.”
Ismaya hanya tersenyum.
“Namun, ketahuilah... nafsu tidak bisa dibunuh. Ia hanya bisa dikendalikan dengan ibadah yang taat dan puasa yang sungguh-sungguh. Hanya lewat laku prihatin manusia bisa menundukkan nafsu.”
“Lalu, bagaimana lagi caranya, Pukulun?” tanya Semar merendah.
“Bila manusia mampu menundukkan nafsu, maka ia akan mengenal Tuhannya. Ia sadar dirinya fana. Ia tak akan sombong, melainkan rendah hati.”
Baca Juga: Lakon Wayang Wahyu Tohjali Bagian 1, Hadirnya Sang Penguasa Alam Jin
Semar menunduk dalam-dalam.
“Duh Pukulun... aku merasa bersalah karena sempat mencurigaimu. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi di Kahyangan, agar aku tidak selalu was-was.”
Ismaya memahami maksud Semar, dan tidak marah. Ia tahu Semar tulus bertanya karena cinta.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani