Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
SEMAR lantas memberi nasihat terakhir kepada para Pandawa.
“Para petinggi negara... dengarkanlah suara hatimu yang paling dalam, bukan egomu. Karena ego adalah bagian dari nafsu yang menghalangi hati suci bicara. Bila pemimpin hanya mementingkan diri dan keluarganya, maka rakyat akan menderita. Ingatlah, rakyat lebih utama dari jabatan.”
“Jika kalian tak mendengarkan nasihatku,” lanjut Semar, “tunggulah kehancuran negeri ini. Bukan karena penjajah, tapi karena perpecahan antara pemimpin dan rakyat. Karena kepercayaan yang memudar dan prasangka yang merajalela.”
Puntadewa menangis. “Aku berjanji, Kakang, tak akan mengulangi kesalahan ini. Aku akan mendengarkan suara rakyat, dan menjaga kepercayaan mereka.”
Tiba-tiba, Kresna menunjuk sumping Puntadewa.
“Ndara Puntadewa, lihatlah. Kalimasada telah kembali ke sumpingmu.”
Puntadewa meraba telinganya. Benar, jimat Kalimasada telah kembali.
“Jimat Kalimasada tak akan pernah hilang selama paduka mengamalkan nilai-nilai dalam kitab suci itu. Tapi bila paduka jauh dari Tuhan dan lupa akan kewajiban, maka jimat itu akan sirna.”
Puntadewa terharu dan memeluk Semar. Mereka pun membawa pulang Kyai Semar kembali ke Amarta. Dengan hati yang lebih bijak dan jiwa yang lebih suci.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani