Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Wahyu Pancadarma Bagian 7-Habis, Pelajaran untuk Mereka yang Lalai Memimpin Negara

Ki Damar • Rabu, 7 Mei 2025 | 03:15 WIB
Ilustrasi lakon wayang Wahyu Pancadarma
Ilustrasi lakon wayang Wahyu Pancadarma

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

SEMAR lantas memberi nasihat terakhir kepada para Pandawa.

“Para petinggi negara... dengarkanlah suara hatimu yang paling dalam, bukan egomu. Karena ego adalah bagian dari nafsu yang menghalangi hati suci bicara. Bila pemimpin hanya mementingkan diri dan keluarganya, maka rakyat akan menderita. Ingatlah, rakyat lebih utama dari jabatan.”

“Jika kalian tak mendengarkan nasihatku,” lanjut Semar, “tunggulah kehancuran negeri ini. Bukan karena penjajah, tapi karena perpecahan antara pemimpin dan rakyat. Karena kepercayaan yang memudar dan prasangka yang merajalela.”

Baca Juga: Cerita Silat Palagan Lawu Wilis: Anila Nurani Ambil Serangan Pertama, Agni Dahana Membalas dengan Pukulan (58)

Puntadewa menangis. “Aku berjanji, Kakang, tak akan mengulangi kesalahan ini. Aku akan mendengarkan suara rakyat, dan menjaga kepercayaan mereka.”

Tiba-tiba, Kresna menunjuk sumping Puntadewa.

“Ndara Puntadewa, lihatlah. Kalimasada telah kembali ke sumpingmu.”

Baca Juga: Serakahnya Prabu Watugunung! Tokoh Wayang Ini Nikahi 803 Perempuan, Dua di Antaranya Punya Ikatan Darah

Puntadewa meraba telinganya. Benar, jimat Kalimasada telah kembali.

“Jimat Kalimasada tak akan pernah hilang selama paduka mengamalkan nilai-nilai dalam kitab suci itu. Tapi bila paduka jauh dari Tuhan dan lupa akan kewajiban, maka jimat itu akan sirna.”

Puntadewa terharu dan memeluk Semar. Mereka pun membawa pulang Kyai Semar kembali ke Amarta. Dengan hati yang lebih bijak dan jiwa yang lebih suci.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #Pandawa #Kresna #semar #Lakon #wayang