Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
DI sebuah hutan bernama Sunyapringga, Raden Parikesit merenung. Ia mendengar bahwa dirinya akan segera diwisuda menjadi Raja di negara Astina.
Namun, ia merasa belum pantas memegang kedudukan setinggi itu.
Dalam hatinya, ia merasa masih terlalu muda dan belum memiliki cukup ilmu untuk menjadi seorang pemimpin. Maka ia memutuskan pergi ke hutan untuk menenangkan pikirannya.
“Paduka ini seperti eyang Paduka saja, eyangmu Raden Arjuna,” ujar Semar yang tiba-tiba muncul.
“Sering pergi ke hutan untuk merenung, mencari ketenangan, bahkan bertapa demi kejernihan jiwa. Tapi apa yang membuat Paduka masuk ke hutan ini, Gus?” tanyanya.
Raden Parikesit memang selalu dibimbing oleh Arjuna, dan atas titahnya pula Semar ditugaskan untuk mengawal cucunya yang tercinta itu.
Parikesit adalah putra dari Abimanyu dan Dewi Utari.
Sejak Abimanyu gugur dalam perang besar Baratayudha, Parikesit menjadi pusat perhatian, selalu dijaga demi keselamatan dan masa depan negara.
“Eyang Semar... apakah aku pantas menjadi raja seperti yang para pepunden harapkan? Aku masih bodoh, dan tak tahu bagaimana tugas seorang raja seharusnya,” ucap Parikesit lirih.
“Duduklah dulu, Den,” jawab Semar menenangkan.
“Kau memang masih sangat muda, tapi semua orang menaruh harapan besar padamu. Apalagi yang bisa menjadi kekuatan seorang pemimpin selain suara rakyat dan doa orang tua? Kekuatan terbesar seorang raja adalah dukungan dari rakyatnya sendiri.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani