Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“AKU takut, Eyang... bagaimana jika suatu saat aku mengecewakan rakyatku sendiri? Bagaimana kalau aku gagal dan diturunkan dari tahta karena tidak becus memimpin?” keluh Parikesit, sadar akan kelemahannya.
“Setiap manusia pasti memiliki kekurangan, Gus. Tak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali Tuhan,” ujar Semar bijak.
“Namun, kau tidak sendiri. Akan ada banyak orang yang membantu paduka dalam menjalankan pemerintahan.”
“Tapi ilmuku belum ada seujung biji semangka, Eyang. Mana mungkin rakyat puas dipimpin orang sepertiku?” Parikesit kembali mengeluh.
Semar tak lelah memberi semangat. “Ilmu itu akan bertambah melalui laku. Lebih baik ilmu sedikit tapi berguna, daripada segudang ilmu yang tak bisa dipakai untuk menolong sesama.”
“Eyang Arjuna selalu bilang aku Prabu Pandu. Bisakah Eyang Semar ceritakan, seperti apa Prabu Pandu itu?” tanya Parikesit.
Semar tersenyum. “Prabu Pandu adalah raja yang arif dan bijaksana. Dalam ilmu kebatinan dan kanuragan, beliau sangat mumpuni. Astina tak pernah diganggu saat beliau memerintah.”
“Tapi kenapa bisa terjadi perang saudara antara Kurawa dan Pandawa? Bukankah mereka itu bersaudara?” tanya Parikesit polos, belum benar-benar memahami sejarah keluarganya.
“Karena para Kurawa sangat serakah. Mereka ingin menguasai negara besar ini. Semua itu dipicu oleh campur tangan seorang luar yang mengacaukan tatanan pemerintahan.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani