Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“SIAPA orang luar itu, Eyang?”
“Namanya Sengkuni, dari Plasajenar,” jawab Semar.
Semar kemudian mulai menceritakan awal mula Prabu Pandu menjadi raja. Cerita yang sangat mirip dengan apa yang kini dirasakan Parikesit.
Pandu kala itu juga merasa tak layak menjadi raja. Selain merasa belum cukup mampu, ia juga adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
“Anak pertama adalah Drestarata, kedua Pandu Dewanata, dan yang terakhir Yamawidura,” jelas Semar.
“Pantas saja Kurawa ingin memiliki Astina... bukankah seharusnya tahta itu milik Eyang Buyut Drestarata sebagai anak sulung? Mengapa justru jatuh pada Eyang Buyut Pandu?” tanya Parikesit.
“Karena Eyang Buyutmu, Drestarata, buta matanya. Ia dianggap tak layak menjadi raja. Pemimpin harus memiliki penglihatan, secara harfiah maupun batiniah. Maka banyak pertimbangan dari Prabu Kresnadipayana atau Abiyasa waktu itu,” kata Semar.
Parikesit mendengarkan dengan saksama.
Semar melanjutkan, “Suatu ketika, negara Astina diserang musuh dari Lengkapura bernama Prabu Wisamuka. Ia raja yang sangat sakti. Karena ketiga putra Prabu Abiyasa merasa tak pantas menjadi raja dan saling merendahkan diri, maka sang prabu membuka sayembara: siapa pun yang mampu mengalahkan Prabu Wisamuka, dialah yang layak memimpin Astina.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani