Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
BATARA Guru memerintahkan Narada untuk mencari seorang jago yang mampu mengalahkan Prabu Kala Pracona dan Patihnya, Sekipu Tantra.
Kedua makhluk jahat itu tengah berusaha menyerang dan menguasai Kahyangan Suralaya.
Batara Narada kemudian membawa putra Bima yang masih berusia satu tahun.
Ia bernama Jabang Tetuka. Bayangkan saja, seorang bayi yang belum mampu berjalan dipercaya menjadi jago para dewa.
“Jangan bersedih, Bima dan Arimbi,” kata Narada menenangkan.
“Tanda warangka dari kayu Kastuba Mulya yang berada di pusar anakmu adalah isyarat bahwa ia telah diberkahi langit untuk menumpas Prabu Kala Pracona dan patihnya.”
“Bagaimana mungkin aku tidak bersedih?” kata Arimbi, ibu Tetuka. “Anakku baru berumur satu tahun, dan harus melawan raja raksasa?”
“Wahai Arimbi,” sahut Bima, “percayalah pada para dewa. Anak itu adalah keturunanku. Dahulu, aku bahkan terbungkus plasenta sampai umur dua belas tahun, dan saat lahir aku langsung bisa mengalahkan Gajah Sena yang mengamuk. Padahal Gajah Sena itu kesayangan Batara Indra.”
Arimbi berkaca-kaca. Di hatinya, tak rela sang buah hati dibawa Narada.
“Seorang ibu mana tega membiarkan anaknya menghadapi bahaya sebesar itu? Mengapa harus anakku, Pukulun?” tanya Arimbi lirih.
“Karena menurut wangsit,” jawab Narada tegas, “hanya anak yang menyatu dengan warangka Wijaya Capa yang mampu menaklukkan Raja Gilingwesi.”
“Yayi Dewi Arimbi,” sahut Puntadewa, “tak ada kemuliaan tanpa pengorbanan. Percayalah pada anakmu, dan pasrahkanlah semuanya kepada takdir langit.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani