Jawa Pos Radar Madiun – Di balik lebatnya pepohonan Desa Babadan, Kecamatan Paron, Ngawi, tersembunyi sebuah hutan penuh misteri bernama Alas Ketonggo.
Kawasan yang membentang ratusan hektare ini bukan sekadar hutan lindung biasa, melainkan dipercaya menyimpan kekuatan spiritual serta menjadi saksi sejarah Kerajaan Majapahit.
Hutan ini diyakini sebagai tempat pelarian terakhir Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, sebelum melakukan perjalanan spiritual menuju Gunung Lawu.
Dalam perjalanan itu, sang raja disebut sempat bertapa di Alas Ketonggo untuk mencari kedamaian batin.
Cerita turun-temurun menyebut, tempat ini merupakan petilasan suci yang sarat nilai sejarah dan spiritual.
Salah satu titik kuat energi di kawasan ini adalah pertemuan dua sungai: Sungai Ketonggo dan Sungai Cangmalang, yang membentuk lokasi bernama Sungai Tempur.
Di sinilah, biasanya digunakan oleh sebagian warga berendam dan berdoa untuk meminta kesehatan serta keselamatan.
Selain sebagai situs sejarah dan spiritual, Alas Ketonggo juga dikenal sebagai salah satu lokasi ritual pesugihan.
Sejumlah orang datang dengan harapan mendapat kekayaan instan lewat bantuan kekuatan gaib.
Praktik pesugihan ini kerap dilakukan melalui meditasi, pemanggilan makhluk halus, hingga pengorbanan tertentu.
Meski menjadi daya tarik tersendiri, ritual pesugihan di Alas Ketonggo tetap menjadi kontroversi.
Sebagian masyarakat memandangnya sebagai jalur mistis berbahaya, sementara yang lain mempercayainya sebagai jalan pintas menuju kemakmuran.
Dalam tradisi spiritual Jawa, Alas Ketonggo sering disebut sebagai pasangan gaib dari Alas Purwa di ujung timur Pulau Jawa.
Keduanya diyakini menjaga keseimbangan kosmis dan energi Nusantara. Tidak heran, lokasi ini banyak dikunjungi peziarah, spiritualis, dan pemburu misteri. (her)
Editor : Hengky Ristanto