Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“TENANGLAH, anakku,” jawab Drupada.
“Meski aku menyimpan dendam terhadap Durna, aku masih cukup dewasa untuk membedakan niat. Aku tidak buta oleh amarah. Yang kulakukan ini karena aku tahu kalian kesulitan mencari senopati. Dan aku punya urusan pribadi yang harus kusampaikan kepada Durna,” imbuhnya.
“Yayi Puntadewa,” rayu Kresna, “kita tak punya pilihan lain. Paduka sendiri mengatakan posisi senopati kosong sangat berbahaya. Percayakanlah pada Prabu Drupada.”
Puntadewa akhirnya mengangguk pasrah.
“Aku mohon, Rama Prabu, berhati-hatilah.”
Drupada tersenyum. “Aku bangga engkau menikahi anakku, Drupadi. Jagalah dia baik-baik. Jangan sakiti hatinya.”
Puntadewa menyembah, memeluk ayah mertuanya, dan berdoa semoga selamat.
Prabu Drupada lantas berangkat, memimpin pasukan Pancala bersama Trustajumena menuju Kurusetra, medan laga Baratayudha.
Dengan gagah, ia menebas musuh satu per satu, menuju pertempuran yang telah lama dinanti.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani