Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“DAN ini kakimu! Kaki yang kau pakai untuk menari dan menyingkirkan Pandawa dari Astina! Rasakan!” kaki Dursasana pun ditebas.
“Bunuh saja aku, Bima. Jangan siksa aku!” pinta Dursasana.
“Enak saja! Kau ingin mati begitu saja?!” Bima masih geram. Tapi Drupadi datang menyentuh tangannya.
“Adikku Bima, darah Dursasana di tanganmu cukup untuk menyempurnakan sumpahku. Tak perlu kau habisi. Lihatlah betapa ia menderita. Bila kau lanjutkan, kau akan kehilangan akal sehat. Kau manusia, bukan hewan buas,” ucap Drupadi lembut namun tegas.
Kata-kata itu membuat Bima tersadar. Ia meneteskan air mata. “Bagaimana bisa aku sebrutal ini? Ya Tuhan, apakah aku masih manusia? Aku telah terbelenggu amarah.”
“Maafkan aku, Dursasana, kakakku...” lirih Bima. Dursasana hanya bisa mengedipkan mata, pasrah.
Bima menusukkan senjatanya ke dada Dursasana. Ia tewas seketika. Darahnya digunakan Drupadi untuk menyempurnakan sumpah: berkeramas dengan darah Dursasana.
Drupadi menata rambutnya dengan darah segar salah satu lawan terlicik di medan Perang Baratayudha.
“Dursasana, kau lambang manusia yang memuja nafsu dan jauh dari keluhuran. Hidupmu penuh kedzaliman. Surga bukan tempatmu, bahkan neraka pun tak layak untukmu.”
(*/naz)
Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani