Cerita silat original Deni Kurniawan*
LANGIT sore menggantung rendah saat Anila Nurani dan Banyu Mangadem melintasi jalanan berbatu menuju Ponorogo. Kuda yang ditunggangi dua pesilat Palagan Lawu Wilis itu melaju pelan, langkahnya hati-hati.
Di mulut sebuah tanjakan sempit, lima pria berwajah garang berdiri berjajar.
Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala merah tua.
Kumisnya tebal-tebal dan tubuh besar-besar.
“Warok,,,” bisik Banyu Mangadem kepada Anila Nurani.
Seorang dari mereka maju, menunjuk ke arah Anila.
“Perempuan dari palagan. Katanya kau penabuh pemberontakan?'' tanyanya.
''Di tanah Warok, kami tak suka cerita silat diputarbalikkan seenaknya,'' lanjut pria itu lantang.
Anila melompat turun dari kuda dia berjalan mendekat.
“Kalau kalian memang warok sejati, seharusnya tahu bahwa silat bukan untuk membela kekuasaan yang menindas,'' ujar Anila.
Singkat cerita, bentrok tak terhindarkan.
Anila melawan serangan demi serangan. Banyu melesatkan beberapa pukulan cepat.
Namun, dua pesilat itu kalah. Salah satu warok hampir menebas Banyu dari belakang.
Bersamaan dengan itu, suara keras menghentikan bentrokan.
Dari kejauhan muncul seorang pesilat berbaju merah.
Rambutnya pendek, matanya menyala seperti bara. Dialah Agni Dahana.
Ketenaran Agni Dahana membuat para warok gentar.
Mereka tahu persis cerita silat yang dimiliki Agni.
Mereka akhirnya menunduk dan mundur tanpa bicara.
Anila menatap Agni. “Kami butuh kekuatanmu untuk menuliskan cerita silat yang sesungguhnya,'' ucap Anila.
''Bukan tentang Palagan Lawu Wilis yang hanya rekayasa itu. Tapi, tentang hal buruk setelahnya,'' lanjut perempuan berjuluk Pesilat Lereng Lawu itu.
Agni tersenyum tipis. “Aku sudah mengetahui semuanya. Aku berdiri mendukung rakyat, melawan penindasan,'' ungkapnya yakin.
Tiga pesilat Palagan Lawu Wilis itu segera beranjak.
Mereka menuju Kabupaten Madiun mencari Jagat Wira dan Dewa Madewa yang menemui Wisa Prabawa. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan