Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“BAGAIMANA ini, Kakang Narada? Bisakah takdir berubah?” tanya Batara Guru, yang tengah berdiskusi alot dengan Narada di Kahyangan Suralaya.
“Tidak bisa, Pukulun. Takdir harus berjalan sesuai pakem. Kita harus cari cara agar Lesmana pergi ke medan perang esok,” jawab Narada.
“Kenapa Kresna diam saja? Bukankah ia yang memegang pakem Baratayudha?” tanya Batara Guru lagi.
“Kresna hanya tahu kronologinya, bukan rintangan seperti yang Lesmana alami. Di sinilah tugas kita, para dewa,” jawab Narada.
“Baik. Aku minta kau cari cara agar Lesmana hadir di Kurusetra besok!”
“Baik, Pukulun.”
Dalam perjalanan, Narada bertemu Batara Yamadipati.
“Ada apa, Paman Pukulun?” tanya Yamadipati.
“Aku harus memastikan Lesmana mati esok di tangan Abimanyu. Tapi sekarang dia dikurung ibunya di taman Kadilengleng,” jawab Narada.
“Kalau begitu, aku tak bisa menjalankan tugas. Karena dalam catatan, Lesmana tewas di tangan Abimanyu. Jadi bagaimana ini?”
(*/naz)
Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani