Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
SRI Kresna bukan hanya seorang raja Dwarawati, titisan Batara Wisnu, dan penentu kemenangan Pandawa.
Ia juga seorang pejuang diplomasi yang berani mempertaruhkan nyawanya demi menuntut keadilan bagi saudara-saudaranya.
Kisahnya sebagai duta Pandawa dalam Mahabharata menjadi bukti bahwa Kresna adalah simbol perjuangan tanpa kekerasan hingga akhirnya dipaksa bertiwikrama.
1. Menjadi Duta Terakhir dalam Misi Diplomatik ke Astina
Pandawa mengirim tiga utusan ke Astina untuk menuntut hak mereka:
Pertama: Dewi Kunti, ibu para Pandawa.
Kedua: Prabu Drupada, mertua Yudistira.
Ketiga: Sri Kresna sendiri sebagai utusan pamungkas.
Sebagai duta terakhir, Kresna memikul harapan besar agar jalur damai masih bisa ditempuh.
2. Memperingatkan Duryudana dengan Bijaksana
Sesampainya di Astina, Kresna memperingatkan Kurapati (Duryudana) agar tidak dikuasai nafsu kekuasaan.
Ia tahu bahwa keputusan Duryudana bisa memicu perang besar.
Namun sang raja Kurawa justru bersumpah tak akan memberikan sejengkal tanah pun sebelum darahnya habis dan tubuhnya jadi bangkai.
3. Dihina di Istana Astina
Alih-alih dihormati sebagai tamu dan duta, Kresna malah dihinakan.
Suyudana memerintahkan para Kurawa untuk menangkap dan mengeroyok Sri Kresna. Ia dianggap hanya seorang pengacau yang datang membawa ancaman.
Baca Juga: Wapres Gibran Tanam Padi dan Nyangkruk Bareng Petani di Ngawi, Sampaikan Hal Ini kepada Bupati Ony
4. Kresna Tiwikrama Jadi Raksasa Balasewu
Terdesak dan dihina, Kresna akhirnya menunjukkan jati dirinya. Ia bertiwikrama menjadi raksasa Balasewu.
Tubuhnya menjulang setinggi langit, rambutnya menyala-nyala, dan kedua tangannya menggenggam senjata kadewatan.
5. Kurawa Ketakutan dan Lari Kocar-Kacir
Melihat wujud asli Kresna sebagai titisan Wisnu, seisi istana gempar. Para Kurawa ketakutan dan berhamburan melarikan diri.
Tidak ada yang sanggup menatapnya, apalagi melawan. Keangkuhan mereka langsung luluh oleh kedahsyatan Narayana.
6. Tanda Bahwa Perang Tak Terhindarkan
Ketika istana Astina kosong karena semua penghuninya lari, Kresna justru merasa prihatin.
Ia tahu, jalur damai telah benar-benar tertutup. Apa yang seharusnya bisa diselesaikan lewat diplomasi, kini hanya bisa ditebus melalui pertumpahan darah.
7. Kresna Bukan Pemicu Perang, tapi Korban Keangkuhan Kurawa
Kresna datang sebagai duta damai, bukan provokator. Namun kesombongan Kurawa menjadikan ia sebagai saksi bahwa jalan kebenaran sering kali ditolak oleh kekuasaan.
Dan perang Baratayudha adalah buah dari keangkuhan itu.
Sri Kresna adalah contoh pejuang sejati. Dia berusaha menyelesaikan sengketa secara damai, bahkan rela dihina demi mencegah perang.
Namun ketika jalur diplomasi ditutup, ia siap menjadi api kebenaran yang membakar keangkuhan Kurawa.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani