Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
DALAM cerita Mahabharata versi pewayangan, Puntadewa dikenal sebagai raja suci yang berdarah putih, seorang yang tak pernah berbohong dan selalu menempatkan kebenaran di atas segalanya.
Namun, dalam satu babak penting dalam Perang Baratayudha, keluhuran itu dipertaruhkan.
Ketika Pandawa tak sanggup mengalahkan Durna yang menjadi senopati Kurawa, Kresna merancang sebuah siasat yang mencederai etika, namun efektif secara strategi.
Siasat ini menjerumuskan Puntadewa untuk melakukan hal yang bertolak belakang dengan seluruh nilai hidupnya: berbohong.
1. Durna yang Tak Terkalahkan
Resi Durna, guru para Pandawa dan Kurawa, berdiri sebagai senopati yang tak tertandingi. Keilmuannya terlalu tinggi untuk dilawan secara langsung.
Para Pandawa mulai kehilangan harapan bisa memenangkan perang selama sang guru masih memimpin pasukan musuh.
2. Siasat Gajah Aswatama
Prabu Kresna, otak strategi Pandawa, menciptakan rencana manipulatif. Ia menyuruh Bima membunuh seekor gajah bernama Aswatama, milik Raja Premeya.
Setelah gajah itu mati, pasukan Pandawa berteriak "Aswatama mati!" maksudnya tentu sang gajah, bukan putra Durna.
3. Durna Terjebak dan Kehilangan Akal
Teriakan itu sampai di telinga Durna, yang hatinya gelisah karena mengira putra kesayangannya telah gugur. Ia meninggalkan medan perang dan mendatangi Pandawa untuk memastikan kabar.
Sebagai orang yang hanya percaya pada kejujuran Yudistira, Durna pun bertanya langsung pada Puntadewa.
4. Puntadewa: Dari Raja Jujur Menjadi Pendusta
Kresna memaksa Puntadewa untuk berbohong demi kebaikan bersama. Dengan berat hati, Yudistira mengatakan bahwa “Aswatama telah mati.”
Kalimat itu tidak sepenuhnya bohong, tapi maksudnya disembunyikan.
Suara Yudistira lirih saat menyebut “yang mati adalah gajah”, dan terdengar samar. Durna terpukul, kehilangan semangat hidup, dan akhirnya dibunuh oleh Drustadyumna.
5. Luka Batin Seorang Raja Suci
Kemenangan atas Durna memang didapat, namun harga yang dibayar adalah nama baik Puntadewa sendiri.
Para satria mulai mempertanyakan keluhuran budinya.
Kebohongan itu menjadi noda dalam catatan hidupnya, bahwa seorang raja suci pun bisa tergelincir bila dikepung oleh kepentingan dan tekanan kemenangan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani