RAKYAT sudah menjauh. Tinggallah Anilla Nurani yang dihadang puluhan pesilat bayangan yang dipimpin Satria Loka.
Langit Magetan mulai muram. Kabut turun perlahan dari Gunung Lawu, menyelimuti tanah perbatasan yang bakal menjadi arena pertarungan.
Suara rakyat yang tadi panik mulai menghilang di kejauhan. Hening. Dua sosok pesilat berdiri saling berhadapan.
Anila Nurani, si Pesilat Lereng Lawu, berdiri tenang. Rambutnya dikucir kuda, berkibar perlahan tertiup angin.
Di hadapannya, Satria Loka, murid terbaik Ketua Daerah Magetan, menggenggam sabuk hitamnya erat-erat.
“Kita duhulu sering berlatih bersama, Loka,” ucap Anila. “Tapi hari ini, kau memilih berdiri di pihak yang menindas,”.
Satria Loka menyeringai. “Dan kau memilih memihak rakyat jelata yang susah hidupnya. Kau akan jatuh hari ini, Anila,”.
Tanp aba-aba, Satria Loka melesat. Pukulan keras dihantamankannya. Anila mengelak.
Tendangan rendah dilayangkan bertujuan menjatuhkan Anila.
Anila mengangkat kaki yang diserang. Tendangan Loka sia-sia.
Anila melompat ke samping, memutar tubuh lalu segera pasang kuda-kuda.
Serangan siku kanan melesat ke arah rusuk Loka. Satria berhasil menangkis, tapi langkahnya goyah.
Kedua pesilat dari Magetan itu bertukar pukulan, tendangan, dan tangkisan.
Gerakan Anila seperti angin dari lereng Gunung Lawu.
Tak bisa diprediksi, tapi selalu datang dan menyasar bagian-bagian lemah lawan.
Serangan demi serangan membuat Satria Loka makin mundur. Napasnya memburu.
''Sebagai pesilat, kau seharusnya punya prinsip Loka. Bukan seperti ini jalan seorang pesilat,'' ujar Anila.
''Tak usah kau mengguruiku, mentang-mentang kau terpilih sebagai utusan Palagan Lawu Wilis,'' sahut Loka.
Dua pesilat sama kuat dari Gunung Lawu itu punya cerita silat yang sama hebat.
Namun, Anila kini paham bahwa Loka memilih berdiri di pihak ketua daerah lantaran iri.
Satria Loka merasa dirinya lebih pantas ketimbang Anila Nurani. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan