Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
SETELAH para Pandawa beranjak dewasa, Raja Drestarata merasa waktunya untuk lengser dari tahta Hastinapura.
Ia dan Resi Bisma sepakat bahwa Puntadewa, sulung dari Pandawa, pantas diwisuda menjadi raja Astina.
Namun keputusan itu membuat Patih Sengkuni gelisah. Didukung oleh kakaknya, Dewi Gandari, Sengkuni tidak ingin keturunan Pandu menguasai tahta.
Ia pun merancang siasat keji untuk menyingkirkan Pandawa secara permanen.
Dalam rapat besar kerajaan, Sengkuni mengusulkan agar Pandawa dan Kurawa diboyong ke Hutan Waranawata.
Alasannya terdengar mulia: mempererat silaturahmi di antara mereka sebelum penobatan raja, sekaligus mengenang jasa para leluhur di tempat suci itu.
Usulan tersebut disetujui Resi Bisma yang melihatnya sebagai tradisi yang baik.
Namun di balik itu, Sengkuni telah menugaskan seorang tukang bernama Purucana untuk membangun balai kayu (bale gubal) yang mudah terbakar.
Malam pun tiba, dan saat semua tertidur, Purucana membakar bangunan tersebut.
Tanpa diduga, Pandawa berhasil lolos berkat pertolongan seekor musang putih misterius—yang ternyata adalah jelmaan Batara Antaboga.
Sebagai bentuk balas budi, Bima kemudian dinikahkan dengan putri naga Antaboga, yaitu Dewi Nagagini.
Sementara Pandawa hidup dalam persembunyian, Drestarata justru menetapkan Duryudana—putra sulung Gandari—sebagai raja baru Hastina. Gelarnya: Prabu Kurupati.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani