Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
NAMA Arjuna tak hanya harum di bumi, tapi juga di kahyangan.
Kisahnya sebagai satria Pandawa yang penuh kesucian dan keteguhan hati menjadikannya terpilih sebagai penyelamat saat para dewa dilanda ancaman besar.
Kala itu, kahyangan Suralaya diserang oleh Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari Kerajaan Himaimantaka.
Ia bernafsu mempersunting Batari Supraba, salah satu bidadari tercantik di kahyangan.
Namun, lamarannya ditolak mentah-mentah oleh Batara Guru, pemimpin para dewa.
Penolakan itu membuat Niwatakawaca murka dan mencoba menerobos pintu Selamatangkep yang menjaga benteng langit.
Arjuna Dipanggil dari Gunung Indrakila
Untuk menghadapi ancaman itu, Batara Guru memerintahkan Batara Indra menjemput Begawan Ciptaning —sebutan Arjuna saat bertapa di Gunung Indrakila.
Arjuna kala itu tengah menjalani ujian berat dari para dewa, mulai dari godaan hawa nafsu, ujian kecerdasan, hingga kekuatan kanuragan.
Sebagai balasan atas keteguhan hatinya, Batara Guru menghadiahkan pusaka sakti bernama Panah Pasupati, pusaka kadewatan yang berbentuk panah dengan ujung menyerupai bulan sabit.
Panah inilah yang menjadi senjata pamungkas Arjuna.
Pertempuran di Kahyangan dan Akhir Prabu Nirbita
Arjuna pun dibawa ke kahyangan untuk menghadapi Prabu Nirbita —nama lain dari Niwatakawaca.
Berkat bantuan Batari Supraba yang mengetahui kelemahan raksasa itu, Arjuna berhasil mengalahkannya dengan memanah tepat ke tenggorokan Niwatakawaca, tempat aji Gineng Sukaweda disimpan.
Seketika, raja angkara itu tewas.
Atas jasanya menyelamatkan kahyangan, Batara Guru mengangkat Arjuna sebagai Prabu Kariti (atau Kiritin), raja di kahyangan.
Sebuah gelar agung yang hanya diberikan kepada satria pilihan para dewa.
Baca Juga: Cerita di Balik Sayembara Drupadi: Siasat Gandamana Mencari Pandawa yang Hilang?
Diberi Hadiah Para Bidadari Kahyangan
Tak hanya itu, Arjuna juga dianugerahi istri dari kalangan bidadari kahyangan. Di antaranya adalah Batari Supraba, Batari Wilutama, dan Batari Dresanala.
Batara Guru memang dikenal sebagai pemimpin yang tak pernah melupakan jasa siapa pun yang telah menolong kahyangan dari ancaman kehancuran.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani