Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
DI sebuah hutan sunyi bernama Pringgoya, Werkudara tengah bertapa dengan khusyuk.
Hingga suatu ketika, doa dan lelaku spiritualnya dijawab para dewa: ia dianugerahi Wahyu Widayat, sebuah karunia suci berupa ilmu kaprajuritan tingkat tinggi.
Werkudara, sang panengah Pandawa, menyambutnya dengan suka cita.
Gembira bukan main, ia berloncatan hingga mengguncang keheningan hutan Pringgoya.
Saat hendak kembali ke negeri Amarta, Werkudara berpapasan dengan Raden Samba, putra Prabu Kresna.
Werkudara segera menghentikannya, heran melihat Samba terburu-buru.
Raden Samba pun membawa kabar menggembirakan: Subadra, adik Kresna dan istri Arjuna, telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.
Mendengar kabar tersebut, Werkudara langsung bergegas menuju Dwarawati.
Ia begitu bahagia hingga lupa peringatan para dewa yang disampaikan saat menerima Wahyu Widayat.
“Jangan menengok bayi sebelum berusia sepasar (lima hari).”
Tapi rasa bahagia menutup ingatan Werkudara. Ia langsung menuju kediaman Subadra dan menggendong bayi Arjuna itu.
Begitu memeluk sang bayi, Werkudara merasa sebagian kekuatannya seakan tersedot.
Sebuah cahaya terang menyelinap dari tubuh Werkudara masuk ke dalam tubuh si bayi.
Saat itulah ia sadar: wahyu yang baru saja ia peroleh telah berpindah ke sang bayi.
Meski kehilangan Wahyu Widayat, Werkudara tidak bersedih. Justru ia menganggap peristiwa itu sebagai pertanda agung.
Ia memohon kepada Subadra agar mengizinkannya menganggap bayi tersebut sebagai anaknya sendiri.
“Bayi ini mendapatkan wahyu karena lantaran aku,” ucap Werkudara.
Maka ia pun memberi nama pada sang bayi: Raden Abimanyu.
Tak lama setelah kelahiran Abimanyu, Dwarawati diserang oleh kerajaan Plangkawati.
Pasukan lawan kala itu dipimpin oleh Prabu Jayamurjita.
Werkudara tak tinggal diam.
Dengan membawa Abimanyu yang masih bayi, ia maju ke medan perang.
Jayamurjita berhasil dikalahkan. Dan sebagai wujud kasih sayang, Plangkawati diserahkan pada bayi Abimanyu.
Begitu besar cinta Werkudara kepada keponakannya itu. Baginya, Abimanyu bukan sekadar darah daging Pandawa, tetapi juga penerus wahyu keprajuritan sejati.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani