GODAAN datang. Tawaran kekuasaan dari utusan para ketua daerah terdengar menggiurkan.
Wisa mengangkat kepalanya, matanya menatap Bayu Sembada denhan tenang.
“Ini bukan adat tradisi yang usang,” jawab Wisa Prabawa dengan nada datar.
“Di Madiun, ini adalah akar yang menyambungkan kita pada jiwa para leluhur. Dan aku bukan pesilat yang bisa dibeli dengan janji kekuasaan,'' lanjutnya.
Mendengar perkataan itu, Bayu tertawa rendah.
“Ketua tidak akan mengulang, tawaran ini hanya datang sekali,'' ujar Bayu.
''Karena, setelah ini, darahlah yang akan bicara,” ucap musuh bebuyutan Wisa itu.
Seketika itu juga, belasan pesilat bayangan mengepung Wisa.
Mereka melepaskan serangan beruntun tanpa suara. Tidak bisa dilawan, hanya bisa dihindari, tidak bisa ditangkis.
Tapi, Wisa sudah siap.Dia sudah menduga serangan khas pesilat bayangan sesuai cerita silat yang beredar itu.
Dengan satu gerakan tubuh, Wisa melepaskan sabuk kain panjang yang melilit pinggangnya.
Kain sabuk yang mengeluarkan sinar perak menembus kabut.
Tarung satu lawan belasan terjadi di Gunung Wilis.
Tapi, Wisa Prabawa bukan pendekar biasa. Dia seorang utusan Palagan Lawu Wilis.
Dia seorang pesilat pilihan dengan segudang cerita silat melegenda di telinga rakyat.
Dan malam itu, di pelataran padepokannya sendiri, dia bertarung bukan hanya demi nama pribadi.
Tapi, juga untuk cerita silat sebenarnya atas nama rakyat.
Pun, kelestarian adat pesilat di bulan Suro serta seorang pesilat Palagan Lawu Wilis. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan