Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
RADEN Basukarna, atau yang lebih dikenal sebagai Karna, adalah putra dari Batara Surya dan Dewi Kunti Talibrata, lahir sebelum ibunya resmi menikah.
Karena situasi yang tidak memungkinkan di Kerajaan Mandura, bayi ini terpaksa dihanyutkan di Sungai Gangga.
Ia kemudian ditemukan dan diasuh oleh Adirata dan Nyai Nadha, pasangan sederhana dari kalangan kusir.
Sejak kecil, Basukarna tumbuh dalam kesederhanaan, namun hatinya besar dan cita-citanya tinggi.
Nasib membawanya ke Astina, dan di bawah perlindungan Prabu Drestarata, ia menjadi sosok terhormat.
Keberaniannya dan bakatnya dalam ilmu perang membuatnya dikagumi banyak orang, termasuk Prabu Anom Kurupati (nama muda dari Duryudana) yang kemudian mengangkatnya sebagai Raja di Kerajaan Awangga.
Namun di balik kejayaannya, Basukarna menyimpan pergolakan batin. Ia tahu bahwa Kurawa bukanlah pihak yang benar.
Bahkan ketika Dewi Kunti, sang ibu kandung, akhirnya mengungkapkan identitasnya dan meminta agar Basukarna bergabung dengan Pandawa—saudara kandungnya—ia menolak.
Ia tetap berada di pihak Kurawa. Bukan karena membenci Pandawa, tetapi karena ia telah mengikrarkan setia kepada Duryudana, satu-satunya orang yang mengangkat harkat hidupnya sejak awal.
Dalam lakon Kresna Duta, terjadi percakapan mendalam antara Sri Kresna, raja Dwarawati yang arif bijaksana, dan Basukarna.
Kresna bertanya mengapa Karna tetap memilih Kurawa, padahal ia tahu kebenaran ada di pihak Pandawa. Di sinilah Basukarna membuka rahasia terdalamnya.
Ia berkata, “Kejahatan para Kurawa tidak akan pernah musnah bila tidak dibakar oleh apinya sendiri. Dan akulah api itu.”
Dengan kata lain, Basukarna memilih bertahan di pihak Kurawa agar menjadi alasan terjadinya perang besar, yang nantinya akan memusnahkan angkara murka dari bumi.
Kresna terdiam, cemas jika Basukarna akan sungguh-sungguh menyerang adik-adiknya sendiri.
Namun Basukarna tersenyum tenang.
Ia berkata, “Tidak mungkin seorang kakak tega membunuh adiknya. Sejak lahir kami memang dipisahkan, tapi takdir ini kuterima dengan dewasa. Aku akan bertarung, tapi aku tak akan menang.”
Basukarna berjanji akan mengalah dari Arjuna, adik kandungnya. Ia sadar bahwa tumpasnya Kurawa adalah bagian dari jalan dharma, dan dirinya harus menjadi korban dalam lakon itu.
Dengan jiwa besar, Basukarna rela mengorbankan nyawanya demi kejayaan Pandawa dan demi tegaknya kebenaran di bumi.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani