Cerita Wayang oleh Ki Damar
HARI ke-18 Perang Baratayudha menjadi penutup berdarah dari perseteruan Pandawa dan Kurawa.
Setelah kematian pamannya, Patih Sengkuni, Duryudana kehilangan semangat juang.
Ia bersembunyi, enggan menampakkan diri, menolak memperlihatkan keperwiraannya sebagai Raja Astina.
Werkudara alias Bima mencari-cari Duryudana ke segala penjuru tanpa hasil. Hanya Kresna yang tahu persembunyiannya.
Namun untuk mengungkapnya, ia harus terlebih dahulu membangunkan kakaknya, Prabu Baladewa, di pertapaan Grojokan Sewu agar tak ikut campur dalam Baratayudha.
Baladewa, marah karena merasa dibohongi, akhirnya dibujuk Kresna untuk menyadari bahwa hari terakhir Baratayuda belum tuntas karena Duryudana belum dikalahkan.
Dengan insting tajamnya, Baladewa menemukan Kurupati (nama muda Duryudana) yang tengah menyelam di sungai Bagiratri.
Rupanya, semakin lama Duryudana menyelam, tubuhnya justru makin kuat, sebuah rahasia yang diketahui kakaknya.
Baladewa menggoyang air sungai untuk memanggil sang adik keluar. Duryudana muncul dan pertempuran pun dimulai.
Duel sengit antara Bima dan Duryudana berlangsung lama dan melelahkan.
Hingga pada akhirnya, gada Rujakpolo milik Bima menghantam tubuh Kurupati dan membuatnya terkapar tak berdaya.
Werkudara pun melampiaskan amarahnya yang telah lama terpendam.
Ia menyeret tubuh Duryudana, menghantamnya ke batu besar demi menghancurkan harga diri sang raja licik itu.
Kematian Duryudana menjadi simbol bahwa kejahatan sebesar apa pun, sekuat apa pun, pada akhirnya tetap takluk oleh kebenaran, kesabaran, dan keadilan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani