Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Ismail atau Ishaq, Siapa yang Disembelih? Kelak Tanyakan kepada Nabi Ibrahim, Cerita Idul Adha

Deni Kurniawan • Selasa, 3 Juni 2025 | 09:17 WIB

Ilustrasi cerita pendek alias cerpen Idul Adha berjudul Ismail atau Ishaq.
Ilustrasi cerita pendek alias cerpen Idul Adha berjudul Ismail atau Ishaq.

SUDAH jamaknya muncul perbedaan di sebuah pemahaman. Tak terkecuali dalam Islam.

Kendati tauhid tetap searah, silang pendapat acap menaungi khasanah. Ya, diakui atau tidak, hal itu nyata adanya.

Sejumlah umat muslim punya pemahaman yang tidak sama satu dengan yang lain. Termasuk Sarban dan Sakat.

Dua santri itu bersitegang pada Idul Adha tahun ini. Perdebatan berlangsung saat penyembelihan hewan.

Begini cerita dua santri muda yang sama-sama baru pulang mondok itu.

Semula, Sarban dan Sakat asyik berbincang saat Pak Yai menyembelih sapi.

Sarban lekat-lekat mengamati kucuran cairan merah yang keluar dari leher hewan kurban itu.

Pun, cipratan darah yang mengenai separuh laras daun pisang sebagai penutup.

Dia sama sekali tidak mempedulikan wajah beberapa warga yang memerah akibat menahan sapi dengan tali.

Mata Sarban tak berkedip hingga Pak Yai mengusap-usap golok dengan kain.

Bolak-balik di dua sisi barang tajam itu. Dia baru terkedip setelah golok bersih.

Sarban sempat bergidik sesaat. Namun, tidak dengan Sakat yang berdiri di sampinya.

''Ada, laki-laki bergidik melihat hewan kurban disembelih,'' gumam Sakat menggoda Sarban.

Sarban tak membalas ejekan. Dia melengos begitu saja dan bergegas mencari tempat duduk.

Sakat mengikuti Sarban. Keduanya kini duduk berdampingan.

Satu ekor sapi berhasil disembelih. Selanjutnya, giliran tujuh ekor kambing.

Berbeda dengan sebelumnya, persiapan penyembelihan kambing tidak serumit sapi.

Tidak banyak warga yang perlu turun tangan menjatuhkan dan menahan.

Tak butuh waktu lama, satu ekor kambing berhasil disembelih.

Melihat hal tersebut, Sarban lantas mengingat sebuah bab tentang kurban dalam kitab yang dipelajarinya di pondok pesantren.

''Sakat!'' kata Sarban tiba-tiba seraya menepuk lutut karibnya sedari kecil itu.

''Hmm,'' respons Sakat ala kadarnya.

''Menurutmu, yang disembelih Nabi Ibrahim dahulu itu siapa?'' Sarban bertanya.

Sakat seketika memundurkan kepalanya. Jidat berkerut.

''Aku tahu arah pertanyaanmu. Janganlah kau memancing perdebatan di sini,'' ujar Sakat.

Sarban dan Sakat sama-sama tahu bahwa masing-masing dari mereka berbeda pemahaman.

Itu merujuk guru mereka yang juga belainan paham dalam ajaran Islam.

''Aku tidak berniat berdebat, tapi perihal Ismail atau Ishak yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim itu, benar-benar mengusik kepalaku,'' ungkap Sarban.

Kedua santri itu diam sejenak. Sementara, kambing yang belum disembelih tinggal satu ekor.

''Yang disembelih Nabi Ibrahim adalah Ishak,'' kata Sakat.

Pernyataan itu tak membuat Sarban terkejut. Kendati pemahamannya berbeda.

Sarban meyakini bahwa yang disembelih Nabi Ibrahim adalah Ismail.

Namun, dia juga tahu bahwa pondok pesantren tempat Sakat percaya kalau yang disembelih adalah Ishak.

''Ulama-ulama di Arab dan di dunia, sebagian besar menyepakati bahwa yang dikurbankan Nabi Ibrahim adalah Ishak,'' ujar Sakat.

''Itu berdasarkan lokasi saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah Allah untuk berkurban,'' lanjut Sakat.

''Lokasi itu bertalian erat dengan domisili dua istri Nabi Ibrahim,'' masih kata Sakat.

''Lokasinya sesuai tempat tinggal Siti Sarah, ibu Ishak. Bukan di daerahnya Siti Hajar yang merupakan ibu Ismail,'' Sakat belum berhenti bicara.

Sarban mengangguk beberapa kali. Tapi, itu bukan berarti dia setuju dengan perkataan terakhir Sakat.

Sakat paham raut muka Sarban yang menyiratkan setengah percaya setengah tidak.

''Tapi tak apa Ban, kita sama-sama juga tidak tahu yang sebenarnya. Semua berdasarkan kajian,'' ucap Sakat.

''Sejak dahulu, banyak ulama di negeri ini memang meyakini bahwa yang disembelih adalah Ismail,'' tutur Sakat.

''Bahkan, dalam pelajaran agama Islam sewaktu kita SD dulu juga dikisahkan seperti itu,'' lanjut Sakat.

''Baiklah, Kat, semoga besok kita bisa bertemu Nabi Ibrahim untuk menanyakan kebenarannya,'' kata Sarban sembari tersenyum.

Bibir Sakat juga melebar. ''Bagaimana kalau taruhan satu jatah bidadari? Kau pilih Ismail, aku Ishak,'' seloroh Sakat.

Keduanya lantas terbahak bersama-sama.

Dua santri muda itu tak sadar bahwa penyembelihan kurban Idul Adha telah rampung.

Perbincangan dengan cerita pendek alias cerpen tentang Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, dan Nabi Ismail, itu membuat keduanya lupa waktu dan tempat.

Sarban dan Sakat lalu buru-buru membantu memotongi daging kurban bersama warga yang lain. (*)

*Penulis bekerja di Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#Ishaq #nabi ibrahim #Nabi Ismail #Nabi Ishaq #cerpen #ismail #ibrahim #cerita pendek #idul adha #Ismail atau Ishaq #Cerita