Cerita Wayang oleh Ki Damar*
Jarasanda adalah putra dari Prabu Briyadarata, raja kerajaan Magadha. Sejak lahir, Jarasanda mengalami perlakuan tragis—ia dibuang ke hutan karena memiliki cacat tubuh.
Sang ayah merasa malu dan tak ingin mengakui anak yang lahir tidak sempurna.
Namun takdir berkata lain: Jarasanda diselamatkan oleh seorang pertapa dan tumbuh menjadi sosok kuat—namun dipenuhi dendam.
Ketika dewasa, Jarasanda kembali ke kerajaan. Ia menuntut balas dan membunuh kedua orang tuanya.
Kulit ayahnya bahkan dijadikan tambur sakti—alat seperti bedug yang bisa berbunyi otomatis ketika mendeteksi kehadiran orang asing di wilayah kerajaan.
Dalam ambisinya menaklukkan dunia, Jarasanda melakukan sesaji Lodra, upacara pemujaan kepada Batara Kala.
Untuk itu, ia menculik dan menawan 97 raja sebagai korban persembahan. Ia hanya membutuhkan tiga raja lagi untuk menyempurnakan ritual kelamnya.
Sementara itu, di Kerajaan Amarta, Puntadewa hendak menyelenggarakan upacara Rajasuya, ritual agung untuk meneguhkan dirinya sebagai kaisar.
Namun syaratnya, semua raja besar harus tunduk padanya—termasuk Jarasanda.
Atas strategi Sri Kresna, Bima dan Arjuna dikirim untuk menaklukkan Jarasanda. Mereka menyamar sebagai brahmana dan masuk ke istana Magadha.
Karena hormat kepada kaum suci, Jarasanda menerima mereka dengan tangan terbuka. Namun saat identitas mereka terbongkar, amarahnya memuncak.
Dalam pertarungan dahsyat yang berlangsung berhari-hari, akhirnya Bima berhasil menaklukkan dan membunuh Jarasanda. Kemenangan ini membuka jalan bagi Puntadewa untuk menggelar Rajasuya, sekaligus membebaskan 97 raja yang nyaris dikorbankan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani