RINTIK hujan belum berhenti membasahi pelataran lokasi perayaan adat Bulan Suro di Madiun.
Rakyat gegap gempita di acara sakral bagi pesilat itu. Denting gamelan bersahut-sahutan dengan tepuk dan sorak.
Di tengah-tengah itu semua, Anila Nurani berdiri seorang diri.
Tiga rekannya, Dewa Madewa, Wisa Prabawa, dan Agni Dahana, baru saja meninggalkannya.
Mereka tampak memilih jalan masing-masing.
Persaudaraan silat yang dibangun di bawah naungan Gunung Lawu dan Gunung Wilis itu kini telah retak.
Anila menahan kesedihan. Air mata dibendungnya kuat-kuat.
''Haruskah perjuangan di jalan rakyat untuk menuliskan cerita silat yang sebenarnya ini berakhir?'' gumam pesilat dari Magetan itu.
Anila memejamkan mata. Suara sorak rakyat yang menyaksikan pertunjukan silat terdengar jauh, seperti bisikan.
Di dalam dadanya kini muncul sebuah ruang yang kosong.
Cukup lama perempuan cantik berjuluk Pesilat Lereng Lawu itu duduk termenung.
Saat membuka mata, di hadapannya anak-anak desa tertawa melihat murid-murid silat memperagakan berupa-rupa jurus silat secara bersamaan.
Para ibu membawa jenang Suro. Bapak-bapak menonton sambil menyandarkan tubuh sudut-sudut lokasi.
Di mata Anila, meraka adalah wajah-wajah yang menggantungkan harapan pada para pesilat sejati.
Yakni, enam pesilat Palagan Lawu Wilis yang kini sudah tidak lagi. Tinggal Anila Nurani seorang diri.
“Kalau aku menyerah sekarang, siapa yang akan menjaga harapan mereka?” batinnya.
“Kalau aku meninggalkan panggung ini, siapa yang akan melanjutkan cerita silat?” lanjutnya.
''Ini bulan Suro, bulan yang sakral. Aku akan tetap berdiri di prinsip silat yang benar, melawan kekuasaan,'' ucap Anila Nurani kepada dirinya sendiri. (*)
*Penulis bekerja di Radar Maidun
Editor : Deni Kurniawan