Jawa Pos Radar Madiun – Dalam khazanah sastra pewayangan, nama Puntadewa atau Yudhisthira dikenal sebagai tokoh paling bijaksana dan berhati bersih.
Ia adalah anak tertua dari Pandawa Lima yang diyakini sebagai jelmaan Dewa Dharma.
Sosoknya identik dengan keadilan, kejujuran, dan kesabaran, serta selalu tampil sebagai penengah dalam setiap konflik Baratayudha.
Drupadi Menjadi Istri Lima Pandawa
Dalam kitab Adiparwa, dikisahkan bahwa Drupadi menjadi istri dari kelima Pandawa karena ucapan Dewi Kunthi.
Saat kelima putranya pulang membawa hasil sayembara, Kunthi mengira mereka membawa hasil minta-minta dan meminta agar "dibagi rata" untuk lima saudara.
Karena ucapan ibu dianggap sabda, Drupadi pun menjadi istri kelima Pandawa.
Dari perkawinan ini lahirlah Pancakumara, yaitu lima anak laki-laki:
Dari Puntadewa (Yudhisthira): Pratiwindya
Dari Bima: Sutasena
Dari Arjuna: Srutakarma
Dari Nakula: Prasani
Dari Sadewa: Srutasena
Kelima putra inilah yang kelak memiliki takdir tragis dalam perang besar Baratayudha, namun namanya tetap dikenang sebagai generasi penerus Pandawa.
Perkawinan Mistis dengan Kuntul Wilanten
Selain Drupadi, Puntadewa juga diceritakan menikah dengan Kuntul Wilanten, putri Raja Gendhing Kapitu dalam lakon Kuntul Wilanten versi Mangkunegaran.
Perkawinan ini terjadi atas permintaan Sri Kresna, sebagai syarat penolak wabah di kerajaan Ngamarta (Indraprastha).
Dalam sayembara tersebut, Bima mewakili Pandawa dan berhasil mengalahkan empat putra Gendhing Kapitu.
Setelah pernikahan, Kuntul Wilanten diceritakan menyatu secara spiritual dengan Puntadewa, menandakan kesempurnaan jiwa sang raja.
Sosok Puntadewa dalam Wayang Jawa
Puntadewa selalu digambarkan sebagai raja yang berjiwa besar, penuh welas asih.
Berhati putih, simbol kesucian dan ketulusan. Tidak mementingkan diri sendiri, bahkan rela mati demi rakyat.
Adil dan bijaksana, menjadi pelindung rakyat dan saudaranya.
Sebagai raja Amarta, Puntadewa tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga simbol keteladanan. Ia dikenal memegang teguh prinsip dharma dalam setiap tindakannya, sehingga dianggap sebagai panutan dalam etika dan spiritualitas pewayangan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani