LANGIT malam Madiun benderang. Bintang dan bulan bersinar terang.
Namun, malam di Bulan Suro itu terasa lebih dingin ketimbang biasanya.
Angin menggigit pelataran tempat terakhir perayaan adat sakral bagi para pesilat di bulan itu.
Anila Nurani masih berdiri di tempat itu dengan firasat buruknya.
Deru langkah kaki terdengar dari segala penjuru, timur, barat, selatan, dan utara.
Mereka datang seperti gelombang. Para pesilat bayangan berbaju hitam-hitam telah tiba.
Mereka datang bukan untuk bernegosiasi. Tapi untuk menghapus satu nama pesilat Palagan Lawu Wilis yang tersisa.
Yakni, Anila Nurani. Perempuan dari Magetan yang masih setia pada prinsip silat dan keberpihakan pada rakyat.
Anila menghela napas dalam kepungan. Dia melepas simpul tali sabuk putih dari pinggangnya. Lalu mengikatkan kembali lebih erat.
Suara gemerisik dedaunan mengantar satu tekad dalam hatinya. ''Aku mungkin sendiri. Tapi aku bukan tanpa warisan. Jurus angin tidak mati. Cerita silat ini belum selesai,” ungkap Anila.
Puluhan pesilat bayangan mulai menyerbu. Gelombang pertama datang dari kanan.
Anila memejamkan mata, menjejak tanah. Dia membiarkan angin menjadi matanya.
Dengan tenang, dia memutar tubuhnya, melepaskan jurus andalannya, tarian angin ereng Lawu. Gerakan ringan, tapi penuh tenaga dalam.
Beberapa pesilat bayangan terpental, menabrak tonggak-tonggak kayu sisa panggung adat.
Namun gelombang kedua datang. Kali ini dari belakang. Mereka menyerang secara bersamaan, menebas, menusuk, memukul.
Anila berputar cepat. Seketika pusaran angin mengelilinginya. Debu dan dedaunan terangkat. Tubuh-tubuh musuh melesat keluar lingkaran angin.
Di dalam pusaran angin itu, tidak ada lagi kemurungan hati Anila Nurani.
Tentang lima pesilat Palagan Lawu Wilis lain yang entah ke mana itu, tak lagi ada di kepalanya.
Di Madiun di Bulan Suro itu, perempuan berjuluk Pesilat Lereng Lawu itu benar-benar mantap hatinya menghadapi semua.
Dia yakin dengan cerita silat atas namanya sendiri. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan