Jawa Pos Radar Madiun – Kisah cinta, kesetiaan, dan pertumpahan darah kembali menghiasi jagad pewayangan.
Kali ini, sosok yang menjadi pusat cerita adalah Dewi Anggraeni, istri dari Prabu Palgunadi, yang dikenal karena keteguhannya menjaga kesetiaan.
Dalam perjalanan menuju Sokalima, Dewi Anggraeni yang kala itu hendak menyusul suaminya, bertemu dengan Arjuna, salah satu ksatria Pandawa.
Perempuan cantik dari Paranggelung ini melakukan perjalanan dengan kereta kerajaan dan dikawal oleh sejumlah prajurit.
Arjuna, yang terkenal dengan pesona dan kegemarannya akan perempuan cantik, langsung terpikat saat melihat kecantikannya.
Tak disangka, Arjuna jatuh cinta dan mencoba mendekatinya. Namun Dewi Anggraeni menolak dengan halus dan tegas.
Ia tetap memegang teguh kesetiaannya kepada Palgunadi. Penolakan ini membuat Arjuna tak menyerah, bahkan memaksa.
Beruntung, pada saat itu Aswatama, putra Resi Drona, kebetulan melintas dan melihat percobaan Arjuna.
Ia langsung menyerang Arjuna untuk melindungi kehormatan Dewi Anggraeni.
Pertarungan singkat terjadi di tengah jalan. Sementara itu, Anggraeni mempercepat perjalanan menuju Sokalima dan segera menceritakan segalanya kepada suaminya.
Palgunadi, yang sedang dalam proses meminta ilmu memanah dari Pandita Durna, langsung marah besar.
Ia lebih percaya pada kesaksian sang istri dan Aswatama dibanding pembelaan Arjuna.
Arjuna sendiri membantah semua tuduhan, berkilah bahwa ia hanya berniat menyapa kawan lama.
Tensi meningkat. Tidak ada ruang untuk damai. Pertarungan pun pecah antara dua ksatria hebat.
Arjuna dan Palgunadi bertarung dengan kemampuan panah terbaik mereka. Duel itu bukan sekadar soal cinta, tapi soal kehormatan, ego, dan harga diri. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani