Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kutukan Tokoh Wayang Ini Mengubah Hidup Pandu Selamanya, Ia Tak Dapat Menyentuh Istri Hingga Ajal Menjemput

Ki Damar • Senin, 9 Juni 2025 | 23:29 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Pandu Dewanata
Ilustrasi tokoh wayang Pandu Dewanata

Jawa Pos Radar Madiun - Dalam kisah Mahabharata, Raja Pandu dikenal sebagai tokoh wayang raja yang bijaksana dan adil.

Namun, ada satu peristiwa tragis yang membuat hidupnya berubah drastis. Peristiwa itu dikenal sebagai kutukan Resi Kimindana, momen yang mengubah jalan hidup Pandu dan menjadi salah satu titik penting dalam epos Mahabharata.

Setelah dinobatkan sebagai raja Astina, Pandu hidup bahagia bersama dua istrinya, Dewi Kunti dan Dewi Madrim.

Kunti digambarkan sebagai perempuan ayu, setia, dan penuh sifat keibuan. Sedangkan Madrim memiliki kecantikan yang menawan dan memesona.

Suatu hari, Pandu mengajak kedua istrinya berbulan madu sambil berburu di hutan.

Di tengah perjalanan, ia melihat dua ekor rusa sedang bercumbu di padang. Tanpa berpikir panjang, Pandu membidik dan memanah rusa jantan tersebut, yang langsung tewas di tempat.

Munculnya Resi Kimindana dan Kutukan Maut

Tiba-tiba, wujud rusa tersebut berubah menjadi seorang Resi bernama Kimindana. Dengan suara yang menggema di angkasa, Resi Kimindana melontarkan kutukan keras:

"Hai, Prabu Pandu! Kau telah membunuh seorang Brahmana yang sedang bersamadi dalam wujud rusa! Kau raja yang tak berperikemanusiaan. Ketahuilah, saat kau menyentuh istrimu dengan nafsu birahi, saat itulah ajalmu tiba!"

Kutukan Resi Kimindana tersebut membuat Pandu langsung jatuh pingsan. Setelah siuman, ia menyadari kesalahannya.

Dengan penuh penyesalan, Pandu pun bersumpah untuk menjalani hidup sebagai Brahmacari, yaitu hidup selibat dan tidak akan menyentuh perempuan, bahkan istrinya sendiri.

Kisah ini menjadi pelajaran penting dalam dunia wayang dan filsafat Jawa: bahwa nafsu dan kelengahan bisa membawa malapetaka.

Pandu mengakui bahwa tindakannya lahir dari ketidakwaspadaan. "Inilah akibat nafsu yang membuat lengah. Kelengahan membawa bencana. Aku harus menerima hukuman ini," ujar Pandu, dalam naskah klasik Mahabharata versi Jawa. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#kutukan #resi #istri #Tokoh #wayang #Pandu