Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerita Silat Palagan Lawu Wilis 154, Berisik Bulan Suro, Ketenangan adalah Kunci Kekuaatan

Deni Kurniawan • Selasa, 10 Juni 2025 | 07:16 WIB
Ilustrasi lima pesilat Palagan Lawu Wilis sedang menyusun strategi mengalahkan enam ketua daerah di bulan Suro.
Ilustrasi lima pesilat Palagan Lawu Wilis sedang menyusun strategi mengalahkan enam ketua daerah di bulan Suro.

LANGIT malam masih mengandung udara Bulan Suro. Serangan enam ketua daerah tak kunjung datang.

Lima pesilat Palagan Lawu Wilis menunggu dengan cemas. Mereka duduk penuh ketegangan. Mata saling bertemu, mencerna peristiwa yang baru saja terjadi di Madiun.

Kekalahan ketua daerah Kota Madiun berjuluk Tong Bajil bukan sebuah akhit. Namun, membuka babak baru yang jauh lebih besar.

Pertarungan melawan para ketua daerah yang sudah lama bersembunyi di balik kekuasaan.

Anila Nurani dari Magetan, yang baru saja pulih dari kelelahan, membuka suara pertama.

“Kita tidak bisa lagi bertarung seperti ini,” katanya dengan suara tenang namun tegas.

“Kita harus punya strategi yang lebih jitu. Lima orang melawan enam ketua daerah. Kita harus berhati-hati,” ujarnya.

“Aku setuju,” sahut Dewa Madewa dengan sorot mata yang masih penuh dendam.

“Tentu mereka sudah belajar dari kekalahan Tong Bajil. Mereka pasti akan lebih berhati-hati,” lanjut Dewa.

Jagat Wira, pesilat dari Ngawi yang tampaknya lebih suka bertindak daripada berdebat itu semula diam.

Namun akhirnya diaberkata, “Tapi kita harus bertindak sekarang juga. Kalau kita tunggu lebih lama, mereka bisa mengumpulkan lebih banyak pasukan bayangan lagi. Kita harus serang!”

“Kekuatan kita terbatas, tidak bisa hanya mengandalkan jurus-jurus kita,'' ucap Wisa Prawaba, pesilat Palagan Lawu Wilis dari Kabupaten Madiun.

Agni Dahana, pesilat muda dari Ponorogo, menyela, “Jika kita berhadapan langsung dengan mereka, kita hanya akan masuk dalam perangkap mereka. Mereka sudah lama mengatur segalanya.”

Setelah beberapa detik keheningan, Dewa Madewa memecah suasana dengan suara keras:

“Kita harus membuat mereka merasa tidak aman. Kita harus mengungkapkan kekuatan rakyat. Kita tidak bisa mengalahkan mereka dengan kekuatan silat semata.”

“Apa maksudmu?” tanya Agni Dahana, penasaran.

“Kita harus mengubah cerita silat ini,” jawab Dewa Madewa dengan penuh keyakinan.

“Cerita silat bukan hanya tentang kekuatan pribadi, tapi juga tentang bagaimana kita menginspirasi rakyat untuk bangkit,'' lanjutnya.

''Kalau rakyat tahu kita melawan mereka demi kebenaran, mereka akan ikut bergabung. Kita butuh perlawanan rakyat,” masih kata Dewa.

Jagat Wira mengangguk mengiyakan.

“Kita harus menunjukkan pada mereka bahwa ini bukan tentang kita, pesilat Palagan Lawu Wilis,'' sahut Jagat.

''Ini tentang rakyat yang telah lama tertindas oleh para penguasa. Kita harus memberi harapan baru,” sambungnya.

Anila Nurani, memotong pembicaraan. “Semuanya dengarkan ini! Ketenangan adalah kunci kekuatan,'' ucap Anila.

''Kita kalahkan enam ketua daerah itu dalam diam, tanpa berisik di bulan Suro ini,'' ungkap Anila.

Keempat pesilat lain saling pandang. Mereka tahu bahwa ini bukan hanya sebuah pertarungan fisik.

Melainkan, peperangan untuk rakyat yang telah lama tertindas kekuasaan. (*)

*Penulis cerita silat Palagan Lawu Wilis bekerja di Radar Madiun.

Editor : Deni Kurniawan
#suro #Cerita Silat #Wisa Prabawa #Tong Bajil #Agni Dahana #bulan Suro #pesilat #Dewa Madewa #madiun #Palagan Lawu Wilis #Anila Nurani #Jagat Wira