KEKALAHAN Indonesia atas Jepang jadi pergunjingan. Nyaris seluruh rakyat Tanah Air bermuram durja. Mulai menit awal sampai keluar berita hasil pertandingan, cuma kata-kata bernada sambat yang keluar dari mulut pendukung timnas.
Bersamaan dengan itu, berupa-rupa anilisis mengapung ke permukaan. Banyak kepala mendadak pengamat bola pertandingan Jepang vs Indonesia itu.
Baik tua maupun muda, tak sedikit kalangan membicarakan kekalahan setengah lusin (6-0) dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026 itu. Termasuk tiga pemuda sebaya ini. Adalah Sarban, Sakat, dan Kaslan.
Di sebuah warung kopi sederhana tepi sawah, tiga pemuda duduk itu mengelilingi meja kayu reyot.
Kendati malam itu hujan, bukan bising rintik air mengenai atap seng warung yang menusuk telinga.
Melainkan, perdebatan tiga kepala dari tiga penjuru yang sama kerasnya itu. Kengototan yang sama-sama tidak bisa dikalahkan dengan argumen biasa.
“Aku sudah bilang,” ujar Sarban sembari duduk dengan satu kaki ditekuk. “Ini semua karena moral pemain kita,'' lanjutnya.
''Mereka kurang salat duha, kurang sedekah subuh, dan mungkin ada yang belum bayar zakat fitrah Idul Fitri kemarin,” sambung Sarban.
Dua rekan Sarban cuma menatap gelagat dan gestur Sarban yang sok itu.
Sakat, seorang ketua BEM salah satu universitas kenamaan di Surabaya, akhirnya menyambar ocehan Sarban.
“Ban, ini sepak bola, bukan kutbah Jumat,'' ucap pemuda dengan rambut acak-acakan seperti demonstran yang belum sempat mandi itu.
''Yang salah itu sistem! Kita terlalu tergantung pada naturalisasi, nggak ada pembinaan akar rumput, federasi korup! Jangan bawa Tuhan ke lapangan dan hasil pertandingan!” cetus Sakat.
Kaslan, pemuda desa yang kerap membeli menyan saban bulan, menenggak teh jahe buatan sendiri.
“Kalian berdua ini terlalu rasional. Aku sudah lihat semalam, waktu Timnas Indonesia kalah dari Jepang, itu karena awan mendung berbentuk kepala naga. Pertanda buruk,” tutur Kaslan.
Sarban dan Sakat melirik Kaslan. Keduanya seolah baru saja mendengar tafsir mimpi.
“Awan bentuk naga? Kaslan, tolonglah. Apa kamu juga berpikiran kalau Jepang menang karena mengirim dukun ke atmosfer?” seloroh Sarban.
Kaslan tersenyum miring. “Kalian kira Hajime Moriyasu (pelatih Jepang) itu tidak punya guru spiritual? Jepang itu halus, mereka percaya roh pohon,” ungkap Kaslan.
Sakat menyela sambil dengan menggebrak bangku panjang yang sedang diduduki.
“Sudahlah, ini bukan soal salat dan bukan soal awan kepala naga. Ini, mengenai taktik. Jepang main high pressing, kita masih pakai strategi gobak sodor,” ucap Sakat.
Sarban melipat tangan di dada. “Coba semua wudhu dulu sebelum kick-off. Dijamin stamina naik,” ucapnya.
Kaslan menoleh malas sembari berujar, “Semua pemain perlu diberi garam dari Mbah Wo (seorang tua yang biasa memimpin nyadran di desa setempat saat Bulan Suro). Dijamin Jepang tidak bisa menembus pertahanan kita''.
“Ini sepak bola, bukan kontes klenik!” bentak Sakat.
“Bukan juga lomba iman!” balas Sarban.
Tiba-tiba, Mbak Lasmi si pemilik warung, datang sambil membawa pisang goreng pesanan tiga pemuda ngotot itu.
“Mau tahu kenapa Indonesia kalah?” tanya Mbak Lasmi santai.
Tiga pemuda itu kompak menoleh, penasaran. Tiga pasang mata lekat-lekat menatap muka janda kembang itu.
“Karena kalian semua cuma bisa debat tentang sepak bola Indonesia. Yang satu sibuk ceramah, satu demo, satu keliling cari menyan. Coba jadi pemain atau pelatih profesional dulu, baru debat kemudian,” Mbak Lasmi nerocos.
Ketiganya terdiam. Suara gerimis mengisi hening. Setelah beberapa detik, Sakat bersuara pelan, “Tapi Mbak, itu bagian dari demokrasi”.
“Demokrasi matamu,” tukas Mbak Lasmi. “Nih, makan pisang dulu. Biar kepala kalian tidak cuma muter di teori,”.
Kini, malam pun bergulir menaungi tiga pemuda keras kepala. Pemuda yang sama-sama punya penyakit ngotot, tapi sekarang dengan mulut tersumpal pisang goreng. Mengunyah-ngunyah. (*)
*Penulis cerpen bekerja di Radar Madiun.