Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Mengenal Tokoh Wayang Wibisana, Sosok Bijak yang Memilih Kebenaran daripada Keluarga

Ki Damar • Kamis, 12 Juni 2025 | 01:45 WIB
Ilustrasi lakon wayang Gunawan Tundung
Ilustrasi lakon wayang Gunawan Tundung

Jawa Pos Radar Madiun – Dalam wiracarita Ramayana, nama Wibisana mungkin tidak sepopuler Rahwana atau Rama.

Namun, adik kandung Rahwana ini adalah sosok yang sangat penting dalam jalannya kisah.

Ia bukan sekadar tokoh pendukung, tapi simbol keberanian moral dan kebijaksanaan sejati.

Lahir dari pasangan Resi Wisrawa dan putri Detya bernama Kekasi, Wibisana merupakan adik bungsu dari tiga bersaudara: Rahwana, Kumbakarna, dan Surpanaka.

Di antara mereka, Wibisana dikenal paling halus budinya dan paling menjunjung nilai-nilai kebenaran.

Hidup Sebagai Pendekar Dharma, Bukan Kekuasaan

Sejak muda, Wibisana tidak menaruh minat pada kekuasaan atau kekuatan magis seperti yang diinginkan Rahwana. Ia lebih memilih menempuh jalan spiritual.

Saat saudara-saudaranya bertapa memohon anugerah dari Dewa Brahma untuk menjadi penguasa atau memiliki kekuatan dahsyat, Wibisana justru memohon agar selalu diberi petunjuk agar tetap berada di jalan dharma—jalan kebenaran dan keadilan.

Inilah yang membedakan Wibisana dari Rahwana: satu mengejar ambisi pribadi, satu lagi mengejar kebajikan.

Memihak Sri Rama, Menentang Sang Kakak

Ketika Rahwana menculik Dewi Sinta, istri Rama, dan bersikeras memperistrinya, Wibisana berusaha menasihati kakaknya agar mengembalikan Sinta.

Namun, niat baiknya justru dianggap sebagai pengkhianatan. Wibisana pun diusir dari kerajaan Alengka.

Ia kemudian memilih memihak Rama dan membantu menyusun strategi perang melawan Alengka. Keputusan ini membuatnya dikenal sebagai sosok yang rela kehilangan keluarga demi membela kebenaran.

Sri Rama, yang bijaksana, menerima Wibisana dengan penuh rasa hormat.

Ia bahkan mengangkat Wibisana sebagai saudara angkat dan memberinya nama baru: Harya Balik.

Dalam pertempuran akhir, setelah Rahwana gugur, Rama pun menyerahkan tahta kerajaan Alengka kepada Wibisana karena dinilai sebagai sosok paling layak memimpin dengan adil dan bijak.

Alasan utama Wibisana menolak mengikuti jejak kakaknya adalah karena ia melihat bahwa Rahwana telah “keblinger” dalam ambisi.

Demi memperistri Dewi Sinta, Rahwana rela mengorbankan rakyat Alengka.

Wibisana sadar bahwa perang hanya membawa penderitaan: munculnya anak-anak yatim, para istri yang menjadi janda, serta rakyat yang hidup dalam ketakutan, kelaparan, dan penderitaan.

Karena itulah, ia memilih berdiri di pihak yang benar, meski harus melawan darah dagingnya sendiri.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Rahwana #ramayana #Alengka #Wibisana #Sri Rama