Jawa Pos Radar Madiun – Dalam kisah epik Ramayana, nama Kumbakarna kerap disandingkan dengan Rahwana dan Wibisana.
Ia adalah saudara tengah dari tiga bersaudara: Rahwana yang penuh ambisi, dan Wibisana yang menjunjung kebenaran.
Namun, berbeda dari keduanya, Kumbakarna justru menjadi simbol ksatria sejati yang bertarung bukan karena ambisi pribadi, tapi karena loyalitas dan rasa tanggung jawab terhadap tanah kelahirannya, Alengka.
Sebelum pertempuran besar melawan Alengka, Wibisana—yang telah membelot dari kerajaan demi membela dharma—menghadap Sri Rama bersama empat rakshasa yang juga berpikiran baik.
Awalnya, Sugriwa sempat mencurigai niat Wibisana, mengingat ia datang dari negeri musuh.
Namun, setelah mendengar janji setia Wibisana dan melihat ketulusannya, Rama menerimanya sebagai sekutu penting.
Sejak saat itu, Wibisana menjadi informan utama yang membongkar seluk-beluk strategi Rahwana dan kelemahan pasukan rakshasa.
Ia bahkan mengetahui adanya penyusup dan strategi tipu daya Indrajit, putra Rahwana.
Berkat bantuannya, pasukan wanara Rama bisa lebih waspada dan terhindar dari banyak perangkap musuh.
Saat Kumbakarna turun ke medan perang, Wibisana meminta izin kepada Rama untuk menemui sang kakak terlebih dahulu.
Ia tahu bahwa Kumbakarna tidak berperang karena benci atau ambisi, melainkan karena loyalitas terhadap negaranya.
Dalam percakapan singkat nan menyentuh itu, Wibisana menyampaikan permintaan maaf kepada Kumbakarna karena telah memilih berpihak pada Rama.
Ia bahkan pasrah jika Kumbakarna ingin membunuhnya karena dianggap pengkhianat.
Namun, respons Kumbakarna sungguh di luar dugaan: ia justru memuji pilihan Wibisana.
Kumbakarna mengakui bahwa apa yang dilakukan Wibisana adalah benar dan terhormat.
Ia sendiri turun ke medan laga karena merasa terikat pada tugas dan panggilan sebagai warga Alengka, bukan karena mendukung ambisi gila Rahwana.
Setelah perpisahan itu, Wibisana mundur dan memberi jalan bagi Kumbakarna untuk bertempur melawan Rama.
Dalam duel besar itu, Kumbakarna akhirnya gugur dengan terhormat, terkena panah sakti Guwawijaya milik Rama. Ia mati sebagai prajurit sejati—bukan musuh, bukan pengkhianat, tapi korban dari peperangan karena kesetiaan yang salah tempat.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani