Jawa Pos Radar Madiun – Dalam bagian akhir kisah agung Ramayana, hadir kisah-kisah yang tak kalah menyentuh dibandingkan pertempuran di Alengka.
Salah satu tokoh yang patut dikenang adalah Dewi Trijata, abdi setia Dewi Sinta.
Sejak hari-hari kelam di taman Asoka Alengka hingga kembalinya Sinta ke Ayodya, Trijata setia mendampingi sang putri kerajaan.
Sosoknya menjadi peneduh dan penyemangat di tengah keterasingan Dewi Sinta yang ditawan Rahwana.
Namun, nasib membawa Trijata ke dalam pusaran kisah cinta tak biasa. Ia menjadi incaran hati Kapi Jembawan, kera tua bijaksana dari pasukan wanara.
Tak percaya diri dengan wujud aslinya, Jembawan menggunakan ilmu pengubah rupa, menjelma menjadi Lesmana demi bisa mendekati Trijata.
Tapi penyamarannya terbongkar oleh Anoman. Jembawan pun kembali ke wujud semula.
Rama, sebagai raja yang bijak, tidak menghukumnya, namun memerintahkan Jembawan untuk menyingkir ke Gunung Kutarunggu, ditemani Dewi Trijata sebagai bentuk pengasingan spiritual.
Di tengah perjalanan, keduanya bertemu Mayaretna, pangeran muda dari Mantili, putra Prabu Janaka.
Mayaretna jatuh cinta pada sosok perempuan dalam mimpinya—yang diyakini sebagai Dewi Sinta.
Namun setelah bertemu Trijata dan Dewi Sumekar, ia sadar bahwa sosok dalam mimpinya justru adalah Sumekar.
Atas petunjuk Jembawan, Mayaretna pun melanjutkan perjalanan ke Ayodya untuk bertemu langsung dengan Rama dan memohon restu untuk bergabung dalam tugas spiritual terakhirnya.
Sementara itu, Sri Rama (Ramawijaya) menghadapi tekanan batin dari rakyatnya yang masih meragukan kesucian Dewi Sinta, meski ia telah membebaskannya dari Alengka.
Dilandasi semangat dharma dan keputusan agung sebagai ksatria, Rama akhirnya memilih jalan moksha: membakar raga duniawinya dan kembali ke keabadian.
Dalam pesan terakhirnya, Rama menyerahkan tahta Alengka kepada Wibisana, menunjuk Anoman sebagai penjaga Gunung Somawana, tempat Rahwana dimakamkan, dan menyatakan bahwa Laksmana akan bereinkarnasi sebagai Kakrasana, pangeran dari Madura.
Puncak kisah pun terjadi saat Ramawijaya, Sinta, dan Laksmana berjalan masuk ke dalam api suci.
Tak hanya mereka, Mayaretna dan Dewi Sumekar pun ikut menyatu dalam kobaran api sebagai simbol pengorbanan dan kesetiaan.
Kuda Balang Anteban dan gajah Jaka Maruta, tunggangan Mayaretna, dikisahkan hilang di Hutan Sokarembe dan tak pernah ditemukan lagi.
Dewi Trijata, setelah menjalani kisah penuh pengabdian, tidak disebutkan ikut masuk ke perapian.
Ia tinggal bersama Jembawan di Gunung Kutarunggu, menjadi penjaga nilai-nilai kesetiaan dan pengetahuan.
Di sanalah Trijata hidup dalam ketenangan, jauh dari hiruk pikuk dunia, membawa kenangan agung tentang cinta, pengabdian, dan api abadi Ramayana.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani