Jawa Pos Radar Madiun - Di balik gemerlap kisah epik Mahabharata, terselip narasi cinta dan takdir yang tak kalah menarik.
Salah satunya adalah kisah Dewi Kunti, ibu dari para Pandawa, yang sejatinya bernama Dewi Prita di masa muda.
Ia adalah putri Prabu Basukunti dari Kerajaan Mandura, seorang putri bangsawan yang dikenal saleh, tekun beribadah, serta teguh menjaga nilai-nilai kehormatan sebagai perempuan.
Kisahnya bermula saat Mandura menggelar sayembara agung untuk memilih pendamping hidup bagi sang putri.
Ratusan raja dari berbagai penjuru datang membawa harapan dan kebanggaan masing-masing.
Namun tak satu pun berhasil menaklukkan hati Dewi Prita. Ia menetapkan standar tinggi, bukan soal rupa atau kekuasaan, tapi integritas dan keteguhan jiwa.
Hingga pada suatu ketika, datanglah Raden Narasoma, seorang ksatria muda yang gagah berani.
Dewi Prita jatuh hati pada pandangan pertama. Sayembara pun dimenangkannya. Namun takdir seolah punya jalan berbeda.
Di tengah euforia kemenangan Narasoma, Raden Pandu, pangeran dari Hastina, datang terlambat.
Ia ingin turut bertanding, tapi sayembara telah usai. Meski begitu, harga diri sebagai ksatria membuat Pandu mengajukan tantangan duel kepada Narasoma.
Pertarungan antara keduanya berlangsung sengit. Para prajurit dan rakyat bersorak menyaksikan dua satria bertarung dengan kekuatan dan kehormatan.
Pada akhirnya, Narasoma harus mengakui keunggulan Pandu dan menyerahkan Dewi Prita kepadanya.
Dengan penuh hormat, Dewi Kunti pun diboyong ke Hastina.
Dari pernikahan mereka, lahirlah tiga sosok yang akan mengubah jalannya zaman: Puntadewa, Bima, dan Arjuna, yang kelak menjadi penentu dalam kisah Baratayudha.
Kisah Dewi Kunti bukan sekadar cerita cinta biasa. Ia adalah perempuan kuat yang sejak awal tahu apa yang ia cari dalam hidup: ketulusan dan keberanian.
Sejarah mencatatnya bukan hanya sebagai ibu dari para kesatria, tetapi sebagai perempuan yang memilih jalan hidupnya dengan penuh kesadaran. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani