Jawa Pos Radar Madiun – Di balik gemerlap kisah perang Baratayudha, ada cerita cinta yang terlupakan, namun tak kalah menggugah hati.
Salah satunya adalah kisah Dewi Banowati, putri bungsu dari Prabu Salya dan Pujawati, bangsawan dari negeri Mandaraka.
Dalam banyak versi lakon wayang, Banuwati tak hanya dikenal karena kecantikannya, tapi juga karena kisah cintanya yang getir dengan Raden Permadi, atau Arjuna.
Seperti halnya sang kakak, Dewi Erawati yang diperistri oleh Prabu Baladewa dari Mandura, dan Dewi Surtikanti yang menjadi istri Prabu Karna Basusena dari Ngawangga, Banowati juga menjadi incaran banyak raja dan ksatria.
Wajahnya yang ayu dan perangainya yang lembut menjadikannya idaman utama di kalangan kerajaan.
Namun, takdir berkata lain. Banowati akhirnya diperistri oleh Prabu Duryudana, raja Astina dan pemimpin kaum Kurawa.
Padahal, dalam hatinya dulu, telah tumbuh benih cinta kepada Arjuna, sang kesatria Pandawa yang juga anak dari Pandu dan Dewi Kunti.
Hubungan mereka bahkan sempat dipersatukan secara diam-diam, namun karena perjanjian dan permainan kekuasaan politik antar kerajaan, Banowati diserahkan kepada Duryudana.
Rasa cinta itu tak pernah padam. Arjuna, meski telah melepasnya secara lahir, tetap memendam luka.
Hatinya gersang, terbelah antara kehormatan dan cinta yang tak berujung. Hubungan itu menjadi simbol bagaimana cinta kadang harus tunduk pada garis takdir dan politik.
Dari keluarga besar Mandaraka, Banowati juga memiliki dua adik laki-laki yang tak kalah melegenda. Yang pertama adalah Raden Burisrawa, kesatria tangguh yang jatuh cinta mati-matian pada Dewi Rara Ireng.
Dan yang kedua, sang bungsu Raden Rukmarata, ksatria muda yang diwarisi sebagian besar kesaktian ayahandanya, Prabu Salya.
Jika Burisrawa dikenal dengan wataknya yang keras dan emosional, maka Rukmarata dikenal tenang namun mematikan.
Ia menjadi salah satu simbol penerus kekuatan Mandaraka meski hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang lebih dulu bersinar.
Kisah Dewi Banowati adalah kisah perempuan Jawa yang menerima takdir tanpa kehilangan martabatnya. Ia menjadi istri dari raja yang paling dibenci oleh Pandawa, namun tetap menjaga kehormatan sebagai bangsawan dan perempuan bijak. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani