Jawa Pos Radar Madiun - Dalam kisah Mahabharata versi pedalangan Jawa, Destarata dikenal bukan hanya sebagai ayah dari seratus Kurawa, tapi juga simbol dari pemimpin yang bijak namun gagal mengambil sikap tegas.
Kebutaan yang ia derita sejak lahir menjadi metafora kuat bagi kelemahan batinnya yang membuat negeri Astina terjerumus ke dalam perang besar: Baratayuda.
Destarata adalah putra dari Resi Abiyasa, juga dikenal sebagai Prabu Kresnadwipayana, raja Astina.
Ia lahir dari rahim Dewi Ambika, putri Prabu Darmahambara dari kerajaan Kasi. Meski sebagai putra tertua, Destarata tidak naik takhta.
Sebab kedua matanya buta sejak lahir, dan menurut aturan kerajaan saat itu, seorang raja haruslah sempurna secara fisik dan batin.
Takhta pun diberikan kepada adiknya, Pandu. Namun takdir membawa lain arah.
Sepeninggal Pandu, Destarata kembali memimpin Astina sebagai raja pengganti, meski secara formal kekuasaan mulai dikendalikan oleh para Kurawa—anak-anaknya sendiri yang berjumlah seratus.
Sebagai ayah, Destarata dikenal lemah dan terlalu memanjakan anak-anaknya. Ia tahu betul kelicikan Duryudana dan saudara-saudaranya, namun memilih diam.
Ia lebih sering termenung dan menyesali nasib, tapi tak mampu membendung ambisi darah dagingnya.
Destarata adalah raja yang bijak namun tidak tegas, sebuah kelemahan yang akhirnya menghancurkan garis keturunan sendiri.
Dalam dunia pewayangan, Destarata dikenal memiliki ajian sakti luar biasa bernama Aji Lebur Saketi.
Ajian ini membuat apapun yang disentuhnya bisa berubah jadi abu.
Ajian ini hanya digunakan sekali, saat hatinya dipenuhi dendam terhadap Pandawa—khususnya Bima (Werkudara)—yang telah membunuh hampir seluruh anak-anaknya dalam perang Baratayuda.
Pada lakon Pandawa Boyong, dikisahkan Destarata ingin memeluk Bima sebagai bentuk rekonsiliasi. Tapi Kresna curiga.
Ia membisikkan pada Bima untuk tidak gegabah dan menyarankan agar ia menyerahkan gada Rujakpolo sebagai gantinya.
Bima sempat menolak karena tak enak hati kepada pamannya, tapi Kresna bersikeras.
Ketika Destarata memeluk gada itu, ajian Lebur Saketi aktif. Gada legendaris itu hancur berkeping-keping seketika.
Terbongkarnya niat jahat Destarata membuatnya malu besar. Ia memilih mengasingkan diri ke hutan bersama istrinya, Dewi Gandari.
Tapi luka batin tak kunjung reda. Gandari yang kecewa akan pernikahannya mulai menyuarakan penyesalan. Ia pun meninggalkan Destarata sendirian di tengah hutan.
Dalam amarah dan kehancuran batin, Destarata menyentuh pohon jati dengan tangannya yang mengandung ajian. Aji Lebur Saketi menyulut kebakaran besar.
Hutan terbakar hebat, dan dalam kobaran api itulah Destarata dan Gandari—yang kembali karena rasa iba—mengakhiri hidupnya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani