Jawa Pos Radar Madiun – Nama Wresasena mungkin tak sepopuler Karna atau Duryudana dalam kisah Mahabharata.
Namun, keberanian dan kepiawaiannya di medan laga menjadikan putra Karna ini sebagai salah satu ksatria muda yang paling disegani di pihak Kurawa.
Pada usia 14 tahun, Wresasena telah menyandang gelar maharathi, gelar tinggi dalam dunia keprajuritan Bharata yang diberikan kepada perwira yang mampu menghadapi ratusan ribu prajurit sekaligus.
Saat perang besar Kurusetra meletus, Wresasena baru tampil di medan laga pada hari kesebelas, setelah ayahnya, Karna, kembali bergabung membela Korawa pascagugurnya Bisma.
Dalam pertempuran itu, Wresasena menunjukkan kemampuan luar biasa sebagai pemanah di atas kereta perang.
Ia menumbangkan banyak prajurit Pandawa dengan kecepatan dan akurasi yang mengejutkan.
Namun, keberaniannya berujung tragis.
Arjuna, dengan bimbingan Kresna, memutuskan untuk menyerang Wresasena secara langsung.
Dalam duel yang terjadi di hadapan Karna sendiri, Arjuna melesatkan panah bermata pisau: memotong busur Wresasena, kemudian jari-jarinya, lengannya, dan akhirnya menebas kepalanya.
Aksi ini merupakan bentuk balas dendam Arjuna atas kematian putranya, Abimanyu, yang gugur dikeroyok pasukan Kurawa, termasuk Karna.
Meski gugur muda, nama Wresasena tetap tercatat dalam lembaran besar epik Mahabharata.
Bahkan Bisma, pemimpin tertua uorawa yang disegani semua pihak, pernah menyebut Wresasena sebagai salah satu kesatria kereta perang terbaik. Tak hanya itu, Kresna pun memuji bakat dan keberanian pemuda ini. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani