Jawa Pos Radar Madiun - Dalam jagat pewayangan Jawa, Batara Kamajaya dikenal sebagai personifikasi cinta, keindahan, dan kesetiaan.
Sosoknya bukan hanya tampan secara rupa, namun juga mulia dalam laku. Ia merupakan putra kesembilan dari sepuluh bersaudara, anak dari Batara Ismaya dan Dewi Senggani.
Kamajaya tinggal di Kahyangan Cakrakembang, bersama saudara-saudaranya seperti Batara Surya (dewa matahari) dan Batara Candra (dewa bulan).
Dalam tradisi wayang, Batara Kamajaya disebut sebagai makhluk paling tampan di Tribuana, yang meliputi Mayapada, Madyapada, dan Arcapada.
Ketampanan tokoh ini bahkan dikisahkan mampu membuat para bidadari menundukkan pandang. Bahkan, disebut melebihi ketampanan Arjuna.
Kamajaya dikenal membawa panah sakti Kyai Pancawisaya, yang memiliki kekuatan untuk menumbuhkan rasa cinta dalam hati siapa pun yang terkena bidikannya.
Namun Kamajaya bukan sekadar dewa cinta biasa. Ia juga ditugaskan oleh Sanghyang Manikmaya untuk menurunkan Wahyu Cakraningrat (wahyu kepemimpinan dan kebijaksanaan).
Wahyu itu diberikan kepada Raden Abimanyu (Angkawijaya), putra Arjuna dan Dewi Sumbadra.
Misi sakral ini disandingkan dengan Wahyu Hidayat, yang diturunkan oleh istrinya, Dewi Ratih kepada Dewi Utari.
Kombinasi wahyu ini melambangkan keseimbangan antara kepemimpinan dan kebijaksanaan hati.
Kisah cinta Kamajaya dan Dewi Ratih (putri dari Batara Soma) menjadi simbol ideal hubungan suami-istri.
Mereka dikenal sebagai pasangan yang harmonis, setia, dan penuh cinta kasih. Hubungan ini menjadi panutan bagi manusia dan para dewa.
Dari Kamajaya dan Ratih, manusia belajar bahwa cinta sejati adalah yang tumbuh dalam kesetiaan, keindahan hati, dan pengorbanan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani