Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Negeri Wirata tengah berada dalam keadaan genting. Kerajaan itu dikepung dari dua arah: di muka oleh pasukan Astina, dan dari belakang oleh bala tentara Trigarta.
Prabu Matsapati, sang raja Wirata, murka bukan kepalang. Amarahnya memuncak karena negeri yang menyerang bukanlah musuh jauh, melainkan kerabat sendiri, yakni Astina.
"Kurang ajar benar Prabu Susarma, Raja Trigarta! Ia mengajak sekutunya, Duryudana dari Astina, untuk menyerangku. Apakah Duryudana telah lupa siapa aku ini, Seto?" geram Prabu Matsapati sambil menatap tajam putranya.
Pangeran Seto menunduk. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tahu situasinya rumit, tapi tak ada kabar pasti yang ia ketahui.
"Maafkan hamba, Kanjeng Rama Prabu," ujar Seto pelan.
"Hamba tidak tahu pasti penyebab serangan ini. Namun, bisa jadi Prabu Susarma telah menghasut Kurupati (Duryudana) agar menyerang kita. Astina mungkin saja merasa terancam oleh kedudukan Wirata sebagai negara kasepuhan, panutan negeri-negeri lainnya. Mereka pasti memiliki alasan yang kuat atau paugeran untuk melakukan ini."
Prabu Matsapati mengepalkan tangannya.
"Tak ada alasan selain ambisi! Duryudana pasti ingin memperluas wilayah kekuasaannya. Bila Wirata takluk, Astina akan menjelma menjadi negara adidaya. Itulah niat mereka. Menguasai, menjajah, menindas. Sungguh kejam dan tak berperi kemanusiaan!"
Prabu Matsapati menoleh ke arah seseorang di sisi kirinya, Kangko, lurah pasar yang selama ini menjadi orang kepercayaannya.
Dengan wajah muram, sang raja bertanya, "Bagaimana pendapatmu, Kangko? Apa yang harus kita lakukan menghadapi keadaan ini?"
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani