Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Werkudara Kembar 1, Ketika Duryudana Ingin Bima Habisi Pandawa

Ki Damar • Rabu, 2 Juli 2025 | 00:33 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Bima titisan Batara Bayu
Ilustrasi tokoh wayang Bima titisan Batara Bayu

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Keresahan masih menyelimuti hati Prabu Duryudana. Raja Astina itu tak pernah bisa lepas dari bayang-bayang kehilangan tahta. Sejak Pandawa kembali dari masa pengasingan, ia merasa kekuasaannya terus digerogoti, perlahan tapi pasti.

Terlebih lagi, Werkudara —sang Bima— kini tengah menjalankan tugas dari Guru Durna untuk mencari Tirta Prawitasari, air kehidupan yang tersembunyi di dasar samudra.

Namun bukan air itu yang menjadi masalah. Yang membuat Duryudana ketar-ketir adalah kebenaran di balik tugas tersebut.

Ia tahu, misi mencari Tirta Prawitasari sejatinya hanyalah kedok jebakan maut yang dikemas dengan nama pengabdian.

Baca Juga: 5 Resep Kue Nastar 1 Kg yang Lembut dan Empuk, Terapkan Langkah Berikut Ini Biar Tidak Gagal

Bila Werkudara sadar bahwa ia dikirim untuk mati, bukan tidak mungkin amukannya akan menghancurkan istana hingga ke akar martabat seorang raja.

“Anak Prabu tak perlu risau,” ujar Resi Durna tenang, matanya tajam penuh perhitungan. “Werkudara itu mempercayai hamba seperti mempercayai langit pada siang hari. Bila ia kembali dan menduga ada tipu daya, biarlah hamba yang menyusun dalih. Ia tidak akan berani menggugat guru yang selama ini ia puja.”

Duryudana menarik napas panjang. Ia tetap khawatir. “Aku pasrahkan paduka, Bapa Panembahan. Tapi ketahuilah, bila Werkudara mengamuk, bukan hanya singgasanaku yang runtuh, tetapi harga diri seluruh Astina ikut tercabik,” ucapnya, nyaris seperti keluhan, lebih dari sekadar perintah.

Raden Sengkuni, patih licik yang selalu punya seribu akal, menyela dengan senyum penuh tipu daya.

Baca Juga: Jadwal Timnas Voli Putra Indonesia di SEA V League 2025 Putaran 1: Hadapi Thailand di Laga Pertama, Tiga Pemain Dicoret

“Kakang Panembahan tentu sudah menyiapkan banyak akal. Adapun tugas untuk menenteramkan kegelisahan anak Prabu akan hamba tanggung sendiri.”

Namun Duryudana bukan orang bodoh. Ia tahu siapa yang harus digerakkan untuk rencana kotor berikutnya.

“Aku tidak akan menuntut berlebihan pada Bapa Durna. Ia telah berusaha. Tapi sekarang aku minta padamu, Paman Sengkuni. Buatlah Werkudara berbalik arah. Buat ia melihat saudara-saudaranya sebagai musuh. Apa pun caranya. Demi kehormatan istana, demi nama baik raja. Bersihkan namaku!”

Sengkuni diam sejenak. Sorot matanya menyimpan siasat yang mulai terbentuk. Duryudana telah memantik api. Kini giliran sang patih meniupkan bara.

(bersambung/*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#werkudara #Lakon #wayang #Duryudana