Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Werkudara Kembar 2, Kembalinya Sang Panenggak Pandawa

Ki Damar • Rabu, 2 Juli 2025 | 01:20 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Bima titisan Batara Bayu
Ilustrasi tokoh wayang Bima titisan Batara Bayu

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Apa yang dikhawatirkan Duryudana akhirnya terjadi. Angin semilir beraroma harum tiba-tiba menyusup masuk ke dalam istana Hastina. Udara itu bukan angin biasa.

Ia membawa getar dan gelombang kekuatan yang khas. Semua yang berada di dalam istana tahu, hanya satu sosok yang membawa tanda-tanda itu: Werkudara.

Bagi Prabu Duryudana, aroma itu adalah peringatan sekaligus pertanda. Sang adik tirinya telah kembali dari perjalanan maut yang ia rancang bersama Durna. Kini, tak ada jalan mundur. Ia harus berani menghadapi kemungkinan amuk Werkudara.

“Adikku yang gagah dan berani,” ujar Duryudana dengan senyum basa-basi yang tak sanggup menyembunyikan keresahan, “bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?”

Werkudara berdiri tegap, suaranya mantap.

“Hem... Kakanda Duryudana, kedatanganku ini berkat restumu. Aku pulang tanpa halangan, dengan selamat.”

Durna, yang berdiri tak jauh dari singgasana, segera menyela dengan nada pura-pura khawatir. “Bagaimana, anakku? Apakah kau berhasil mendapatkan Tirta Prawitasari?”

Werkudara menatap gurunya dengan tajam namun tulus.

“Bapa guru Durna, restumu membawaku ke dasar samudra. Aku bertemu Rucibatara. Aku mendapatkan ilmu kasampurnan. Aku kembali bukan hanya membawa air kehidupan, tapi juga pencerahan. Karena itu aku datang ke sini. Untuk mengucapkan terima kasih.”

Durna tampak lega. Tapi belum sempat ia berkata apa-apa, Raden Sengkuni maju selangkah, menyelipkan racunnya yang halus.

“Syukur alhamdulillah, Raden. Hamba bahagia mendengarnya. Namun, dengan bekal ilmu sehebat itu, semestinya paduka tidak lagi berada di tempat yang sama. Seorang yang mendapat ilmu sejati, harus naik tingkat.”

Werkudara mengerutkan alis.

“Naik tingkat bagaimana maksudmu? Semakin tinggi ilmu, semakin rendah hati manusia. Tak layak sombong.”

Sengkuni tersenyum tipis, menyusun kata seperti menyusun jaring laba-laba.

“Benar, paduka. Tapi di zaman sekarang, semakin orang merendah, semakin diinjak. Kita hidup di masa ketika harga diri harus diperjuangkan, bukan ditunggu.”

Werkudara mendengus. “Aku tak suka permainan kata. Katakan maksudmu dengan jelas!”

Sengkuni tak lagi menahan diri.

“Paduka adalah tokoh utama dalam membangun negara Amarta. Haruskah tahtanya justru diduduki Puntadewa? Bukankah yang lebih layak adalah paduka sendiri?”

Werkudara menggeleng tegas. “Jangan ngawur. Puntadewa kakakku lebih bijak. Aku ini hanya orang bodoh, tak paham kenegaraan.”

“Tapi sekarang paduka bukan Werkudara yang dulu!” desak Sengkuni.

“Paduka telah menyatu dengan ilmu kasampurnan. Dan apakah paduka tidak memikirkan nasib anak-anak paduka? Antareja, Gatutkaca, Antasena? Suatu saat mereka juga akan ditindas bila paduka diam.”

Duryudana ikut bicara, nadanya seperti empati, namun sarat jebakan.

“Yayi Werkudara, bukan maksud paman mengadu domba. Tapi pikirkanlah garis keturunanmu. Suatu saat, bila tak dipersiapkan, mereka akan kehilangan haknya. Apa kau rela dicatat sebagai leluhur yang tak memikirkan masa depan darah dagingmu?”

Werkudara terdiam. Angin yang tadi wangi, kini seakan berubah arah.

(bersambung/*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#werkudara #Lakon #wayang #Sengkuni