Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Werkudara Kembar 3, Tangis Amarta dan Teka-Teki Pujasena

Ki Damar • Rabu, 2 Juli 2025 | 01:50 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Bima titisan Batara Bayu
Ilustrasi tokoh wayang Bima titisan Batara Bayu

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Kata-kata Werkudara keluar seperti palu godam yang memecah keheningan istana Hastina.

"Sepertinya benar apa yang kau katakan. Baiklah... Aku akan kembali ke Amarta. Aku akan meminta agar tahta kerajaan Amarta diserahkan kepadaku."

Kalimat itu membuat Sengkuni dan Duryudana saling pandang, tersenyum penuh kemenangan. Racun yang mereka semai telah mulai tumbuh subur dalam benak sang ksatria Pandawa.

Namun, di balik senyum licik itu, Durna hanya bisa tertunduk. Hatinya bergemuruh antara setia pada negara atau menyesal telah menyeret murid yang ia cintai ke dalam jebakan adu domba.

Dalam hati, ia mengutuk dirinya sendiri. “Sungguh, aku tak pantas disebut guru bila mengorbankan murid demi tipu muslihat kekuasaan.”

Baca Juga: Jadwal Timnas Voli Putra Indonesia di SEA V League 2025 Putaran 1: Hadapi Thailand di Laga Pertama, Tiga Pemain Dicoret

Sementara itu, jauh di Amarta, kabar kembalinya Werkudara belum juga sampai.

Puntadewa, sang raja yang adil dan arif, duduk resah di balairung.

Sehari-hari ia menatap pintu gerbang, menanti bayangan sang adik yang belum juga kembali dari perjalanan mencari Tirta Prawitasari.

"Arjuna, bagaimana hasilmu menghadap Kanjeng Eyang Wiyasa?" tanya Puntadewa dengan suara pelan, seolah takut meretakkan harapan yang tinggal serpihan.

"Kakang Prabu," jawab Arjuna dengan kepala tertunduk. "Kanjeng Eyang hanya berpesan agar kita bersabar. Bila kejadian di luar nalar menimpa kita, jangan terpancing emosi. Tanggaplah dengan bijaksana."

Baca Juga: Cara Praktis Bikin Lumpia Pisang Coklat Keju, Lumer dan Renyah

"Hem... Begitu dalam pesannya, penuh misteri pula," Puntadewa mengangguk pelan. "Namun, aku takut bila kesabaran ini justru membuat Kanjeng Ibu Kunti hancur. Sudah beberapa malam beliau tak makan, tidurnya gelisah, setiap terjaga hanya bertanya: 'Kapan Werkudara pulang?'"

Balairung seketika sunyi. Semua tertunduk dalam keheningan duka yang tak mampu diungkapkan kata.

Bayangan Werkudara, yang biasanya jadi sandaran kekuatan, kini justru menjadi pusat kekhawatiran.

Namun tak ada yang tahu, bahwa di langit kahyangan Suralaya, sebuah peristiwa ganjil tengah terjadi.

Batara Bayu, sang dewa angin, tengah menerima tamu tak biasa. Seorang bocah datang dengan langkah tegap, mata tajam, dan aura yang jauh dari sekadar anak kecil.

“Kau ini siapa?” tanya Batara Bayu, penasaran melihat bocah itu yang tak tunduk padanya meski ia seorang dewata.

Baca Juga: Lakon Wayang Werkudara Kembar 1, Ketika Duryudana Ingin Bima Habisi Pandawa

“Aku adalah Pujasena,” jawab bocah itu mantap. “Aku datang ingin bertanya: apakah aku akan berguna suatu hari nanti?”

Batara Bayu menatap bocah itu lekat-lekat. Di balik wajah mudanya, ada jiwa tua yang menanti waktu.

“Setiap manusia pasti membawa guna, wahai Pujasena. Kau bertanya karena hatimu tengah gelisah. Ada apa sebenarnya?”

Pujasena menatap langit, lalu menunduk. "Aku merasa dunia sebentar lagi akan berubah. Dan aku... seperti bagian dari perubahan itu."

Bayu menghela napas. Langit Suralaya seolah turut mendengar ramalan itu. Perjalanan Werkudara belum selesai. Dan kelahiran Pujasena bukanlah kebetulan.

(bersambung/*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#werkudara #Lakon #wayang