Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Werkudara Kembar 5-Habis, Pujasena Melawan Sang Werkudara Palsu

Ki Damar • Rabu, 2 Juli 2025 | 03:50 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Bima titisan Batara Bayu
Ilustrasi tokoh wayang Bima titisan Batara Bayu

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“Aku tak peduli dengan omongan mereka,” gumam Werkudara dengan nada getir. “Aku juga punya anak. Kelak mereka punya cucu. Apakah selamanya yang sejahtera hanya anak-anak Puntadewa yang tinggal duduk di singgasana, sementara keturunanku hanya jadi bayang-bayang?”

Kalimat itu mengguncang balairung. Puntadewa, sang raja yang selalu bersahaja, memilih pasrah.

“Sudahlah, Arjuna. Jika itu kebaikan bagi Werkudara dan keturunannya, aku rela. Aku pun tak merasa pantas duduk di takhta ini.”

Namun Arjuna tak setuju. “Tidak boleh begitu, Kaka Prabu. Werkudara sedang lupa jati dirinya. Ia bukan orang yang tamak. Ia hanya sedang tertutup mata nuraninya setelah kembali dari samudra.”

Werkudara mendelik. “Bila benar aku melantur, lalu apa?”

Baca Juga: Tarif Ekspor Mobil Inggris ke AS Turun Jadi 10 Persen, Industri Otomotif Bernapas Lega

“Aku akan mengingatkan kakangmas, meski harus dengan caraku!” jawab Arjuna lantang.

Pertarungan pecah. Dua saudara Pandawa saling adu kesaktian. Namun kekuatan Werkudara jauh di atas Arjuna.

Saat Arjuna mulai terdesak, Puntadewa maju mencoba menenangkan. Tapi belum sempat bicara, suara isak memecah ruang istana.

Dewi Kunti, sang ibu, berlari dan merangkul Bima. “Cukup! Apakah kalian lupa, bila ibu menangis bukan karena bangga, tapi karena hati yang remuk melihat anak-anaknya bertengkar?”

Baca Juga: Lakon Wayang Werkudara Kembar 1, Ketika Duryudana Ingin Bima Habisi Pandawa

Ketegangan belum reda, ketika dari kejauhan, seorang bocah kecil muncul. Wajahnya bersih, tatapannya tajam. Ia adalah Pujasena.

Tiba-tiba, Pujasena melompat dan menendang Werkudara hingga terpental jauh. Semua yang hadir terkejut. Seorang bocah bisa menumbangkan Werkudara?

“Kau siapa?!” teriak Werkudara dengan marah.

“Yang seharusnya bertanya itu aku!” jawab Pujasena dingin. “Kau siapa, datang ke istana membawa keributan? Werkudara tidak serakah. Kau mencemarkan namaku!”

Baca Juga: Cara Praktis Bikin Lumpia Pisang Coklat Keju, Lumer dan Renyah

Werkudara terdiam. Tapi gengsinya tak membiarkan ia mundur. Ia menantang bocah itu. Terjadilah pertarungan hebat. Meski tubuhnya kecil, Pujasena bisa mengimbangi kekuatan Werkudara.

Saat keduanya mengerahkan kekuatan angin pamungkas, tubuh mereka berubah. Kabut tebal mengelilingi. Dan di tengah pusaran angin itu, muncullah kebenaran.

Yang selama ini mengaku Werkudara ternyata bukan Werkudara, melainkan Anoman, sang pahlawan kera dari Alengka yang menyamar untuk melindungi kehormatan Pandawa.

Sedangkan bocah Pujasena, ia adalah Werkudara yang sejati.

“Wahai kakang Senggana,” ucap Bima pelan, menyadari semuanya. “Kenapa kau menyamar menjadi diriku?”

Baca Juga: Piala Dunia U17 2025, Timnas Indonesia Satu Grup dengan Brasil , Nova Arianto Masukkan 8 Pemain Baru

Anoman tertunduk.

“Maafkan aku, adikku. Aku khawatir. Saat kau tak kembali dari samudra, aku takut bangsa lain menyerang. Maka aku menyamar agar Pandawa tetap utuh di mata dunia.”

Bima tersenyum getir. “Kau mempermalukanku di Astina. Kini mereka mengira aku serakah.”

Anoman tertawa kecil. “Tenanglah, Yayi. Akan aku gunakan Aji Lali Rasa. Mereka semua akan lupa. Yang penting sekarang, Pandawa kembali lengkap. Dan Amarta, tetap utuh.”

Dengan restu ibu Kunti, serta pelukan erat antara saudara, Amarta kembali tenang. Werkudara yang sejati telah kembali, dan badai godaan kekuasaan kini mereda. Tapi jauh di ujung cakrawala, ancaman lain masih mengintai.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#werkudara #Pandawa #Lakon #wayang