Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Bima Racun 1, Siasat Gelap Kurawa Dimulai

Ki Damar • Rabu, 2 Juli 2025 | 23:50 WIB
Ilustrasi lakon wayang Bima Racun.
Ilustrasi lakon wayang Bima Racun.

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Latihan pagi hari di alun-alun Hastinapura baru saja usai. Seperti biasanya, Pandawa menunjukkan keunggulan mereka.

Kali ini, pertandingan adu kekuatan antara Bima dan Duryudana dimenangkan oleh sang Werkudara.

Sorak-sorai para pelatih memuji kekuatan Bima, sementara Kurawa hanya bisa menahan geram.

Dursasana, yang selama ini selalu berdiri di belakang sang kakak sulung, menggeleng tak percaya.

“Bagaimana ini, Kakangmas? Apakah kita hanya akan diam saja melihat kemenangan mereka terus-menerus? Jika begini terus, tahta kerajaan pasti akan jatuh ke tangan Pandawa. Kanjeng Rama Prabu Adipati pun tampaknya akan lebih condong memilih mereka.”

Namun, Duryudana tetap tenang. Wajahnya keras namun penuh siasat.

“Tenang, Dursasana. Aku akan menemui Paman Harya Sengkuni. Dia pasti punya cara untuk membalikkan keadaan. Setelah istirahat, siapkan kudaku.”

Sementara itu, seusai latihan fisik, seluruh putra Astina dikumpulkan kembali untuk menerima pelajaran ilmu senjata dari Begawan Durna.

Namun, Duryudana dan Dursasana absen dari pelajaran tersebut.

Kepada sang guru, Kurawa lainnya berdalih bahwa kakak mereka tengah kelelahan setelah bertarung habis-habisan dengan Bima.

Begawan Durna hanya mengangguk, meski sorot matanya menyiratkan kecewa.

“Kalau begitu, pelajarilah ini baik-baik. Dalam berlatih adu kanuragan ataupun olah fisik, menjaga kondisi tubuh adalah hal utama. Ingatlah, mengatur napas adalah kunci dari penguasaan diri.”

Namun, kata-kata Durna hanya bergema di udara. Sebagian besar Kurawa tidak mendengarkan.

Sebaliknya, para Pandawa (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) menatap sang guru dengan penuh perhatian.

Mereka menyerap setiap ilmu yang diberikan, memahami bahwa ilmu tidak hanya diukur dari kekuatan, tetapi dari kedalaman sikap dan pengendalian diri.

Di sinilah perbedaan mencolok antara dua garis keturunan Bharata ini tampak nyata: satu tekun dalam laku, satu lagi lengah dalam angkara. Dan dari titik ini pula, benih pengkhianatan mulai ditabur.

(bersambung/*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#bima #Lakon #wayang #Sengkuni #Duryudana