Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Pagi itu langit Astina bersih tak berawan. Cahaya matahari menyusup ke sudut-sudut istana, menyinari wajah Raja Suyudana yang tengah bersantai dalam pasamuan negara.
Ketika sang raja sedang gembira, tak ada urusan berat dibahas.
Yang ada hanyalah perintah untuk para nayaka praja agar terus mengawasi rakyat, memastikan tak ada satu pun suara yang berani mengkritik kekuasaan.
Sebab, bagi Duryudana, kritik adalah ancaman yang tak bisa ditoleransi.
Namun ketenangan itu hanya berlangsung sekejap. Suasana mendadak tegang kala seorang pemuda berpakaian sederhana namun memancarkan aura menyala muncul di pendapa istana.
Dialah Wisanggeni, putra Arjuna dan Bathari Dresanala, darah setengah dewa yang membawa api tak hanya di tubuhnya, tetapi juga di hatinya.
Sengkuni, patih cerdik yang licik, segera gelisah. Ia tahu siapa Wisanggeni. Sosok muda itu bukan satria biasa.
Tenaganya setara kekuatan lima satria, dan keberaniannya hanya bisa disaingi oleh para leluhur.
“Ada apa Wisanggeni datang ke mari? Berani-beraninya kau melewati para prajurit istana dan langsung menghadap tanpa izin,” tegur Suyudana dengan nada geram.
Wisanggeni menatap tajam, suaranya datar tapi menggigit.
“Apakah raja Astina yang disebut-sebut agung ini ketakutan melihat kedatanganku? Haruskah aku meminta izin terlebih dahulu untuk menginjakkan kaki di tanah leluhurku sendiri? Astina ini bukan hanya milikmu, Suyudana. Aku pun punya hak atas tanah ini. Jangan bersikap seolah kau satu-satunya ahli waris para leluhur.”
Baca Juga: Lakon Wayang Bima Racun 1, Siasat Gelap Kurawa Dimulai
Sengkuni melompat dari duduknya. “Anak Arjuna, jangan besar kepala! Kau tidak berhak ikut campur urusan kami. Ini rapat penting negara. Pergi sana!”
Namun Wisanggeni tidak bergerak sedikit pun. Matanya menyorot tajam pada setiap kurawa di ruangan.
“Jadi aku dilarang mendengar jalannya musyawarah? Apakah karena kalian takut aku akan membuka kedok kebusukan kalian? Atau karena aku anak dari Pandawa dan memiliki darah dewa, adalah ancaman bagi tahta kalian yang curang?”
Pasamuan Astina terdiam. Aura panas terasa memenuhi ruangan. Raja Duryudana, meski bersikeras mempertahankan wibawa, mulai merasakan tekanan dari kehadiran Wisanggeni.
Ancaman yang selama ini hanya dibicarakan dalam bisik-bisik, kini berdiri tegak di hadapannya.
(bersambung/*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani