Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Wisanggeni Gugat 2, Anak Arjuna Duduki Tahta

Ki Damar • Minggu, 6 Juli 2025 | 01:15 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Wisanggeni
Ilustrasi tokoh wayang Wisanggeni

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Suasana pasamuan istana Astina mendadak gempar saat Wisanggeni, putra Arjuna, datang langsung melontarkan gugatan tajam kepada Raja Duryudana.

Bukan sekadar keturunan kesatria, Wisanggeni adalah putra separuh dewa yang dikenal sakti, jujur, dan ceplas-ceplos. Ucapan kerasnya menyentak jantung kekuasaan Kurawa.

“Negara Astina ini milik pepundenku, para Pandawa. Maka sekarang juga aku minta! Kalian adalah orang-orang dzalim!” teriak Wisanggeni lantang, disaksikan para nayaka praja.

Duryudana yang merasa martabatnya digugat, berupaya membela diri. Ia menegaskan bahwa secara garis keturunan, ia adalah pewaris sah karena ayahnya, Destarata, adalah anak sulung Begawan Abiyasa.

Menurutnya, sistem keraton menempatkan anak sulung sebagai penerus tahta, dan karena itu, posisi raja seharusnya berada padanya, bukan Pandawa.

Namun, Wisanggeni tak tinggal diam. Ia membalas dengan logika sejarah yang tajam.

“Pertanyaannya: apakah ayahmu menerima derajat putra mahkota? Tidak, kan? Justru yang diangkat menjadi putra mahkota adalah Eyang Pandu. Karena Eyang Destarata sadar diri, tak pantas, dan memilih mengundurkan diri karena kondisinya yang tunanetra. Maka, kalianlah yang telah merusak sejarah itu!”

Ucapannya menggema hingga ke luar istana. Para prajurit yang pernah mengabdi pada Prabu Pandu hanya bisa menunduk haru.

Dalam hati mereka bergemuruh kekaguman terhadap keberanian Wisanggeni.

“Wisanggeni benar. Meskipun masih muda, dia cerdas dan berani. Lanjutkan, Wisanggeni. Pepundenmu pasti bangga.”

Sebelum Duryudana sempat memanggil pasukan, Wisanggeni dengan cepat melompat dan menduduki singgasana Astina.

Aksi itu bukan sekadar simbol, tapi sebuah pernyataan bahwa tahta sejatinya telah tergugat. Dan dalam diam, istana pun retak oleh keberanian satu anak muda yang membawa nama besar Pandawa dan keadilan leluhur.

(bersambung/*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Wisanggeni #Lakon #wayang